Kamis, 09 Oktober 2008

Kisah Plempungan

Mengais Rezeki dari Selongsongan Peluru

foto: pitogoestin
LAPANGAN Plempungan di kawasan Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, sedari Kamis (9/10/2008) pagi kemarin sudah terlihat ramai. Ratusan orang berbadan tegap dan kekar dengan seragam loreng-loreng warna hijaunya tampak berdiri berjejer memanjang dengan senapan laras panjang di tangan. Sesekali terdengar aba-aba seorang komandan di depannya yang langsung disambut dengan teriakan saling bersahutan dari mereka. Mereka pun melanjutkannya dengan berlari sembari berbaris mengelilingi lapangan.
Di tepi lapangan, puluhan pasang mata memandang latihan militer para taruna Akademi Militer Magelang itu dengan sesekali berdecak kagum. Para pengendara sepeda motor yang melintasi kawasan itu pun rela berhenti sejenak untuk melihat latihan perang mereka. Beberapa kali terdengar suara tembakan beruntun dilepaskan ke arah gundukan tanah yang berdiri memanjang di sisi luar lapangan, dekat perkebunan.
“Maklum, paling nggak tiga kali setahun baru ada latihan,” kata Sandy (16), pemuda berparas tampan dan berambut cepak yang sedari awal menonton di pinggir lapangan.
Sementara itu, menjelang siang, dari kejauhan, tampak berbondong-bondong warga kampung sekitar mendatangi lapangan itu. Kedatangannya pun beragam, mulai dari laki dan perempuan, tua dan muda, bahkan anak-anak di bawah usia sekolah. Tentulah mereka tak sekedar meluangkan waktu kerjanya di sawah sebagai petani untuk melihat tontonan gratis dan menarik yang hampir pada waktunya bisa dinikmati di kawasan desa mereka. Terbukti, berbagai alat pertukangan hingga pertanian, semacam sabit, linggis, cetok, pisau, ember kecil, juga botol bekas minuman mineral dibawanya.
“Mau nyari selongsongan peluru untuk dijual,” sahut Ngudi (85), lelaki renta yang turut bergabung dalam rombongan warga itu.
Menurut Ngudi, kegiatan mencari ratusan, bahkan ribuan selongsongan peluru yang telah dimuntahkan para taruna dalam latihan perang itu sudah biasa mereka lakukan. Bahkan ada koordinasi antara pihak Akmil dengan perangkat desa setempat. Warga setempat mengakui, mereka diizinkan untuk mencari selongsongan peluru yang berupa timah dan kuningan yang terpendam di dalam gundukan tanah itu sekaligus ditugasi untuk merapikan kembali tanah yang sempat longsor akibat untuk latihan itu. Selongsongan peluru itu mereka jual sekitar seharga Rp 17.000 per kilogramnya.
“Ada lho, yang pernah dapat Rp 12 juta,” imbuh Ngudi berbinar.
Hingga kemudian, aba-aba komandan pun menandai berakhirnya latihan itu. Dengan aba-aba sekenanya pula, warga yang sudah siap di tepi lapangan langsung berlari menuju ke arah gundukan, memburu selongsongan peluru demi rupiah.
Tak ketinggalan anak-anak kecil yang ikut mengaduk-aduk tanah hingga lumayan dalam dengan potongan bambu atau kayu. Semangat mereka pun tak kalah dengan kakak-kakak, bahkan ibu dan ayah mereka yang berupaya mendulang rupiah.
“Lumayan, buat ditabung,” aku Aan (11), bocah kelas V sekolah dasar itu sambil tersenyum. Dia memperlihatkan beberapa potong besi kuningan di dalam botol bekas minuman mineral yang diperkirakan bisa membawa pulang selembar Rp 100.000.
“Buat jajan saja,” timpal Nurul (10), adik kelasnya mantap. (PITO AGUSTIN RUDIANA)

Rabu, 08 Oktober 2008

Kuliner Getuk

Awalnya Makanan Khas Magelang
foto: pitogoestin
  AWALNYA dari sepotong singkong yang dibuat getuk, makanan alternatif masyarakat Magelang, Provinsi Jawa Tengah sebagai pengganti nasi sedari zaman Belanda. Apalagi, beberapa daerah di Magelang adalah penghasil singkong berkualitas baik. Semisal singkong dari Desa Candimulyo, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang. Kala itu, singkong hanya ditumbuk halus, lalu dicetak dengan berbentuk kotak memanjang dan berwarna hitam seperti wungkal, batu untuk mengasah pisau. Tak heran, masyarakat pun menyebutnya dengan getuk wungkal. Sekedar pemanis cukup diberi parutan kelapa atau gula pasir. Makanan bertekstur lunak itu lebih banyak dijual di pasar-pasar tradisional sebagai makanan khas masyarakat menengah ke bawah di Magelang. 
"Mengapa makanan khas itu tidak dinaikkan derajatnya?" tanya almarhum Hendri Samadhana, pendiri perusahaan getuk Trio, getuk komersiil pertama di Magelang, sebagaimana ditirukan anak bungsunya dari tiga bersaudara, Herry Wiyanto (49) saat ditemui Tempo di tokonya di Jalan Tentara Pelajar, Magelang, 8 Oktober 2008. 
Kala itu, Hendri yang sehari-hari membuka bengkel aneka peralatan pertanian, kerap melihat orang menjual getuk wungkal itu di pasar. Yang menarik perhatiannya adalah tektur getuk itu relatif kasar karena hanya ditumbuk secara manual. Terpikir olehnya untuk menciptakan mesin penumbuk singkong yang menghasilkan getuk yang halus demi mengangkat derajat getuk agar citranya lebih baik. 
Akhirnya, dengan bermodal mesin yang dibuatnya, keluarga Hendri mulai membuka
usaha getuk kali pertama pada 1958. Bentuk getuknya saat itu seperti kue rol yang panjang, lalu dipotong-potong. Bagian luar berwarna putih, bagian dalam berwarna cokelat. Saat itu hanya 2-3 kilogram singkong yang dibutuhkan tiap harinya. Hasilnya cukup dititipkan ke warung-warung sekitar, hingga kemudian berkembang di toko-toko.
Gayung bersambut. Pada 1960-an, Magelang kedatangan tamu kehormatan Ratu dari Thailand, Ratu Sirikit. Selain mengunjungi Candi Borobudur, dia juga sempat singgah di Akademi Militer Nasional di Magelang (sekarang Akademi Militer/Akmil). Pihak AMN pun memilih getuk milik Hendri sebagai salah satu makanan khas Magelang yang dihidangkan. 
"Ternyata Ratu senang. Getuk kami pun dikenal masyarakat dengan getuk Sirikit," kenang Herry. 
Getuk Sirikit pun menjadi langganan AMN untuk membekali para tarunanya saat pulang kampung kala cuti tahunan tiba. Getuk itu melanglang buana nyaris ke seantero Nusantara, mengingat para taruna itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Hingga lama kelamaan, keluarga Hendri merasa rikuh dengan sebutan nama getuknya yang memakai nama seorang ratu. Akhirnya, dipilihnya nama "Trio" untuk menggantikanya. Nama itu diambil dari nama bengkel vulkanisir ban milik saudaranya yang sudah punya nama. 
"Juga karena anaknya ayah saya ada tiga," sambungnya. 
Begitulah, Herry berkisah bagaimana cikal bakal getuk tak hanya menjadi makanan khas Magelang. Melainkan sekaligus menaikkan pamor Kabupaten Magelang sebagai Kota Getuk. Perkembangannya pun, kian banyak bermunculan usaha getuk-getuk sejenis dengan aneka bentuk di Magelang. Ada getuk Eco, Marem, Kinanti, Kyai Langgeng, Sarinah, Rio, Trio Aroma, dan beberapa lagi. Mereka mempunyai ciri khas sama, yakni dikemas dalam kotak-kotak mungil berukuran sekitar 15 x 15 x 15 centimeter. 
"Dulu dikemas dalam besek (kotak dari anyaman bambu) kecil dan dibungkus dengan kertas sirsak," kata Herry. 
Oleh karena kian sulitnya memperoleh besek yang didatangkan dari Yogyakarta dan kian langkanya kertas sirsak, pada 1970-an mereka mengganti bungkus dengan plastik dan kemasannya dengan kotak kardus. Bentuk getuk yang dijual pun tak lagi sebesar kue rol, melainkan lebih kecil dan dibuat bertumpuk yang terdiri tiga warna dan tiga rasa. Warna kekuningan berasa asli singkong, warna cokelat berasa cokelat, warna merah muda berasa frambozen.
"Pernah mencoba rasa durian, tapi nggak semua suka durian. Ya, sekarang tergantung pesanan dan musimnya," tukasnya yang telah mempunyai dua toko di Jalan Mataram dan Jalan Tentara Pelajar itu.
Uniknya, usaha yang kini diteruskan ibunya, Setyawati (77) dan dikelola bersama Herry itu hanya menghasilkan sedikit produk saban harinya. Hanya 1 kuintal singkong untuk 150 kardus isi 12 biji per kardus tiap harinya. Tak heran, karyawannya pun hanya 10 orang. 
"Prinsipnya, getuk ini harus baru tiap harinya, karena hanya tahan dua hari," tandasnya yang mengaku tak menggunakan bahan pengawet apapun. Getuk yang berwarna putih adalah salah satu ciri getuk yang memakai bahan pengawet.

foto: pitogoestin
Tiap hari pihaknya akan mengirim produknya ke toko-toko langganan, dan tiap hari pula ditarik, habis atau pun tidak. Sebagai penanda, pihaknya memasang label bertuliskan tanggal pembuatan, bukan tanggal kadaluwarsa. Produknya pun dipasarkan seputar Magelang Raya, mulai Kota Muntilan hingga Secang saja.
"Getuk yang berkualitas baik adalah yang kenyal, empuk, dan tidak lengket di mulut kalau dimakan," terangnya membuka rahasia. Getuk semacam itu biasa didapatkan dari singkong jenis kinanti yang kulit luarnya cokelat dan tidak mengelupas, dagingnya berwarna kemerahan, dan ditanam di tanah pasir yang berlumpur.
 Belum lebarnya sayap pemasaran getuk khas Magelang itu pun diakui Andreas Kurniawan Purnomo (34), pengelola getuk "Eco" bersama ayahnya, Ridwan Purnomo (57). Pihaknya lebih banyak memfokuskan pemasaran di seputaran Magelang Raya, ditambah Yogyakarta dan Semarang dengan mengandalkan dua karyawannya yang khusus bertugas untuk berkeliling dari satu toko ke toko lain untuk mendistribusikan produknya.
 "Karena getuk kan khas Magelang," ucapnya memberi alasan.
 Usaha yang dirintis lewat home industry itu dimulai sekitar 1975-an dengan hanya dua orang karyawan. Bahkan hingga saat ini pun, keluarganya masih mengelolanya sebagai industri rumahan pula dengan 20 orang karyawan. Belum ada satu toko pun yang dimiliki, namun cukup dititipkan ke toko-toko lain yang telah menjadi langganan tetap.
 "Bahkan ada toko yang memasang plang sebagai agen resmi getuk "Eco", mereka sendiri yang minta," imbuhnya yang berencana akan membangun sebuah toko taahun depan.
 Pabriknya pun berada di tengah perkampungan padat di Jalan Jambon Tengah di Kabupaten Magelang. Untuk menuju ke sana haruslah melalui gang sempit yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Sebuah rumah yang terletak di belakang rumah yang lain. Pihaknya pun melayani pembelian secara eceran yang langsung ke pabriknya.
 "Harganya lebih murah, kami jual Rp 10.000 per kotak. Kalau di toko, kabarnya sampai Rp 15.000 per kotak," ucapnya yang menamai "Eco" dari bahasa Jawa halus yang berarti enak.
 Sehari ada sekitar 500 kotak dengan isi 16 biji per kotak yang dibuat. Getuknya pun punya kekhasan bentuk kecil memanjang yang terdiri tiga warna dn tiga rasa yang disusun berhimpitan. Ada rasa cokelat, rasa vanila, juga frambozen.
 "Soal rasa, pembeli yang menilai. Menurut mereka masih ada rasa khas singkongnya," terangnya setengah berpromosi.
 Sebagai inovasi, pihaknya pernah menjual getuk dengan rasa yang sama dalam tiga warna kemasan kotak yang berbeda. Ada warna hijau, biru, dan merah. Namun ternyata konsumen lebih memilih kotak warna merah, meski rasanya semua sama.
 "Mungkin ini efek psikologis warna merah ya," celetuknya sembari tertawa. Akhirnya, kemasan kota warna merah menjadi ciri khas getuk "Eco" sampai sekarang.
 Berbeda dengan pihak getuk "Trio" yang sempat merasa tak nyaman ada usaha getuk lain yang mempunyai nama mirip nama getuknya, sehingga sempat menjadi kendala. Bagi pihak getuk "Eco", kian sulitnya untuk mendapatkan singkong adalah kendala besar karena terkait keberlangsungan usahanya. Menurut Andreas, kian tak banyak penjual singkong di pasar-pasar.
 "Mungkin karena usaha keripik singkong juga makin banyak," ucapnya.
 Tak pelak, selain mengupayakan jemput bola dengan mencari singkong ke daerah-daerah lain, pihaknya pun terkadang membeli singkong yang belum cukup umur. Jika masa tanam singkong biasa sekitar 10-12 bulan, terkadang usia delapan bulan sudah dipanen sebelum diburu oleh pihak lain. (PITO AGUSTIN RUDIANA)

Minggu, 05 Oktober 2008

Kuliner Bakpia

Bermula dari Nomor Rumah

foto: pitogoestin
SINGGAH di Yogyakarta terasa tak lengkap jika pulang tak membawa buah tangan berupa bakpia dan gudeg. Begitulah, dua jenis makanan khas Yogyakarta yang turut menambah perbendaharaan wisata kuliner seantero Nusantara. Bahkan, karena kekhasannya pula, nama-nama kampung yang merupakan cikal bakal ketenaran dua jenis makanan itu menjadi tempat wisata kuliner yang terasa kurang jika dikunjungi.
Pathuk. Begitulah orang menyebut sebuah kampung di Kelurahan Ngampilan, Kecamatan Ngampilan, Kota Yogyakarta sebagai kampung bakpia. Di sanalah, sebuah toko bakpia terbesar, Bakpia 75 yang merupakan cikal bakal bakpia di Yogyakarta, berdiri megah. Awalnya hanya sebuah usaha rumahan (home industriy) milik keluarga Liem Bok Sing yang merintis di Jalan Dagen, atau sisi barat Malioboro pada 1948. Kue basah itu asal China itu dijual di rumah, juga dijajakan secara berkeliling oleh dua orang karyawannya. Keterbatasan tenaga membuat keluarga Liem banyak menolak pesanan-pesanan bakpia. Hingga pada 1955, keluarga itu pindah ke Jalan AIP II Karel Sasuit Tubun yang terletak di kawasan Pathuk hingga sekarang. Di kawasan itu pula, mulailah bermunculan industri-industri bakpia, dari yang besar seperti Bakpia 25 yang sering disebut-sebut sebagai kompetitor Bakpia 75, pun industri-industri sedang hingga kecil lainnya, seperti Bakpia 555, Bakpia 21, Bakpia Bu Sri, Bakpia 932, Bakpia 73B, dan sebagainya.
Nama 75 diambil dari nomor rumah tempat bakpia itu diproduksi,” kata Manajer Operasional Bakpia 75, Dwi Yuniati saat ditemui Tempo di tempatnya bekerja akhir pekan silam, 5 Oktober 2008.
Sepeninggal Liem, usaha itu diteruskan anak laki-lakinya, Yeni Susanto. Pesanan dari para pelanggan pun diterimanya, sehingga dia menambah karyawannya menjadi lima orang. Pada 1980-an, bakpia tak lagi dijual dengan berkeliling, tapi dipasarkan di toko-toko yang juga menjual aneka makanan kering khas Yogyakarta. Bahkan pada 1990-an, bakpia yang diproduksinya pun banyak dipesan dari pihak-pihak hotel, pun dari berbagai toko. Usaha pun diteruskan istrinya usai Yeni meninggal. Hingga kini, Bakpia 75 mengembangkan sayap menjadi empat toko. Yakni di Jalan AIP II KA Tubun Nomor 75 dan Nomor 83 yang berdiri berdampingan, serta di Jalan HOS Cokroaminoto 119B dan Jalan Magelang Km 4,5 yang semuanya terletak di Yogyakarta. Proses produksi tak lagi dilangsungkan di rumah, melainkan di toko-toko tersebut yang selain menjadi tempat pemasaran, sekaligus pabrik. Kecuali toko di Jalan Magelang yang hanya menjadi lokasi pemasaran saja. Jika semula hanya mempekerjakan dua karyawan, kini total mencapai 150-an orang karyawan.
Jika semula bakpianya hanya berisi umbu (kacang hijau), sekarang ada cokelat, keju, juga durian.
“Khusus bakpia isi durian diproduksi jika musim durian saja,” imbuhnya.
Alasannya, isi bakpia haruslah dari bahan asli, bukan sekedar aroma, bukan pula buatan. Tak hanya hanya itu, per 29 September 2008 lalu, Bakpia 75 juga memproduksi pia, yakni bakpia kering dengan adonan mentega yang relatif tahan lama hingga sebulan. Berbeda dengan bakpia isi kacang hijau yang hanya tahan sekitar empat hari, atau isi keju, durian, dan cokelat yang bisa tahan hingga seminggu.
Momentum lebaran, juga libur panjang menjadi kesibukan tersendiri bagi karyawan di sana. Tak tanggung-tanggung, dalam sehari bisa memproduksi bakpia sebanyak satu hingga satu setengah kuintal bakpia. Jauh lebih banyak ketimbang hari-hari normal yang hanya memproduksi 25-30 kilogram bakpia.
Harga sekotak bakpia isi umbu Rp 17.500, kalau yang rasa lain Rp 20.000,” terangnya untuk satu kotak isi 20 biji.
Seperti siang pada akhir pekan lalu. Kala para pemudik mulai bersiap-siap kembali seiring arus balik lebaran, jalan di kawasan itu terlihat padat dan macet dengan kendaraan pribadi, mulai dari mobil dan sepeda motor, hingga kendaraan umum sebangsa taksi dan bus pariwisata. Tujuannya sama, mampir ke kawasan Pathuk untuk berburu bakpia aneka rasa khas Yogyakarta.
Mau nyari bakpia, Mbak? Di situ saja,” tunjuk seorang ibu yang mengaku asal Surabaya yang baru saja keluar dari mulut sebuah gang kecil sambil menenteng beberapa tas kecil berisi kotak-kotak bakpia. Gang itu memisahkan antara dua toko sekaligus pabrik Bakpia 75 yang berada di jalan yang sama. Saat melongok ke gang yang hanya muat dilalui kendaraan roda dua dan tiga itu, tampak aneka papan nama bertuliskan bakpia berdiri saling membelakangi. Saat Tempo menanyakan mengapa dia rela menyusuri gang-gang sempit hanya untuk membeli bakpia, mengingat banyak sekali toko-toko bakpia di sepanjang jalan itu.
“Wah, rasanya sama saja,” ucapnya sembari tersenyum.
Komentar soal rasa yang sama, juga diakui Aji (25), anak sulung dari Waljiyah (54), pemilik home industry Bakpia 932 di salah satu gang kecil. Dia mengisahkan, ada pembeli yang semula datang ke rumahnya, mencicip bakpianya, menanyakan harganya, lantas pergi tanpa membeli. Namun tak berapa lama, dia kembali untuk membeli beberapa kotak bakpia.
“Biasanya karena harga di industri-industri rumahan lebih rumah, sedangkan rasanya tak jauh beda,” ucapnya.
Dirinya berani menjual dengan harga terpaut lebih murah ketimbang industri bakpia yang sudah punya nama. Sebutlah, untuk satu kotak isi 15 biji seharga Rp 9.000 dan Rp 12.000 untuk 20 biji. Rasanya pun tak jauh beda dengan bakpia-bakpia yang sudah berkelas.
“Kakek saya dulu adalah karyawan angkatan pertama di Bakpia 75,” kata Aji.
Dari kakeknya pula, kepiawaian membuat bakpia, termasuk pengetahuannya soal bumbu “rahasia” diturunkan pada ibunya yang merupakan menantunya. Hanya saja, ibunya baru mulai membuat bakpia pada Agustus 2007 untuk kesibukan kala pensiun tiba.
Kakek berpesan, jika ingin membuat bakpia agar dilakukan setelah kakek meninggal,” imbuhnya yang masih memasarkan bakpianya sebatas di sebuah rumah sakit swasta dan di rumah tentunya. Dalam sehari, lewat modal awal sekitar Rp 7 juta hingga Rp 10 juta, pihaknya bisa memproduksi 10 hingga 20 kilogram per harinya. Namun saat lebaran tiba bisa melonjak hingga 50 kilogram per hari.

foto: pitogoestin
Tak hanya soal kekhasan rasa bakpia yang legit, Aji dan keluarganya pun memberi nama usahanya sesuai dengan nomor rumahnya, 932. Sama dengan yang dilakukan usaha pendahulunya.
“Di sini semua juga begitu. Kalau namanya pakai angka, itu nomor rumah. Kalau pakai nama orang, biasanya nama pemilik atau anaknya,” terang Aji.
Sama pula yang dilakukan keluarga Lis Wahyuni (50) yang memberi nama usahanya dengan nomor rumahnya di sebuah gang sempit di belakang Toko Bakpia 75, Bakpia 73B. Menurut salah satu anaknya, Nico Sulistyo (25), sebelumnya sebagian rumahnya yang terletak tepat di belakang pabrik Bakpia 75 itu dibeli pihak Bakpia 75. Ada lorong kecil sebagai jalan yang menghubungkan antara Jalan AIP II KS Tubun, pabrik, juga rumahnya.
“Mau tak mau, keluarga saya sering lihat bagaimana proses membuat bakpia. Ibu saya pun belajar dari karyawan di sana,” aku Nico.
Akhirnya, pada 2005, rumah mereka itu pun disulap sebagai pabrik sekaligus tempat pemasaran bakpianya. Proses pembuatannya pun memanfaatkan lorong kecil memanjang selebar sekitar satu meter di rumah itu. Mulai dari proses mengaduk adonan, mencetak, hingga proses penggorengan, pendinginan, dan memasukkannya ke dalam kotak-kotak karton.
“Lebaran begini, produksinya bisa naik tiga hingga empat kali lipat,” imbuhnya sembari menambahkan bahwa pada hari biasa memproduksi sekitar 100 kotak berisi 20 biji per kotaknya.
Tak hanya membuat bakpia menjadi kesibukan masyarakat sehari-hari di kawasan Pathuk. Warga lainnya pun memanfaatkannya untuk menjaring konsumen dengan menjadi tukang parkir atau pun menjadi pekerja di bagian pemasaran yang ikut mempromosikan bakpia-bakpia yang dijual di sana. Sebutlah, sejumlah warga yang mengajak pengunjung yang datang untuk membeli bakpia di rumah-rumah industri kecil sembari berteriak-teriak setengah berpromosi di mulut gang. (PITO AGUSTIN RUDIANA)



Kamis, 26 Juni 2008

Seni Teater Lungid


Semua Berawal dari Sebuah Tuk


foto: pitogoestin
SEBUAH ember berukuran sedang warna hitam nyaris dibuang Bibit, pemuda pengangguran berpikiran idealis, ke dalam sumur. Lantaran ember lusuh yang sudah penuh tambalan di sana-sini itu masih saja bocor meski sudah ditambal ulang. Mbah Kawit, perempuan paling renta yang hidup dari belas kasih warga di perkampungan tanah magersari itu berteriak-teriak mengingatkan. Bahwa membuang sampah ke dalam sumur yang berisi tuk alias mata air sebagai sumber kehidupan, bukan perbuatan terpuji. Sumur bukan tempat sampah. Kehidupan sedari bangun tidur dan akan tidur lagi dimulai dari tuk. 
  Tapi peringatan kedua dari Mbah Kawit untuk melindungi tuk, tak mempan buat Suleman Lempit. Si tukang makelar apa saja itu marah-marah gara-gara seekor ayam jago aduan raib dari kandangnya. Padahal ayam itu sudah ada yang menawar, Rp 57.000. Tanpa rasa bersalah, Mbah Kawit nyeletuk. Ada seekor bangkai ayam ditemukannya di dalam sumur. Lantas dijualnya kepada pedagang ayam seharga Rp 500. Suleman yang dipanggil Mbah Kawit dengan Leseman – alasannya, Suleman adalah nama nabi – mengamuk. Sumur si sumber penghidupan itu dianggapnya sebagai biang kerok melayangnya rezeki Rp 57.000. Tanpa rasa bersalah pula, laki-laki itu berdiri di atas bibir sumur, membuka retsluiting celana panjangnya, dan mengencingi air sumur, si air kehidupan. Bibit dan Lik Bismo, si penjual mainan anak-anak, tali kolor, juga sumbu kompor yang fanatik dengan wayang kulit, hanya terbengong.
 Penonton yang disuguhi adegan itu pun tergelak. Apalagi tiap ada dialog berisi umpatan yang diucapkan para pemain Teater Lungid dalam lakon berjudul “TUK” di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kamis (26/6/2008) malam. Tontonan teater berbahasa Jawa ngoko itu pun seperti tontonan lenong. Penonton sibuk nyeletuk, sibuk komentar, atau sekedar bersuit-suit dan tertawa.
 “Ya, sebenarnya kita sekaligus ingin memperkenalkan kembali idiom-idiom bahasa Jawa kepada anak-anak muda yang sekarang sudah banyak yang tidak mengenalnya,” kata sang sutradara, Pelog Trisno Santosa.
 Banyak ungkapan yang diakui Pelog, hanya mampu dipahami masyarakat Jawa 10 tahun lalu, saat kali pertama lakon TUK dipentaskan pada 1997 akhir. Namun menjadi asing di telinga anak-anak muda pada 10 tahun berikutnya. Sebut saja, seperti istilah urip kaya sambel yang diucapkan Mbok Jemprit, si penjual bumbu dan lombok di pasar. Artinya, hidup hanya untuk pelengkap. Mengingat pasar tradisional tempatnya berjualan akan digusur untuk digantikan dengan pasar modern.
 Hanya saja, diakui Pelog, tak semua ungkapan yang diucapkan sampai maksudnya bagi penonton. Lantaran para pemain yang rata-rata sudah berusia 45 tahun ke atas itu lupa untuk menjelaskan artinya.
 Misalnya, gerji. Pemain hanya menyebut gerji tanpa memberinya penjelasan. Orang mungkin tahunya itu gergaji, padahal itu sebutan untuk tukang jahit pakaian. Ya, sudah tua, antara otak dengan bibir sudah nggak sinkron,” kata Pelog, si pemeran Lik Bismo sambil tertawa. Namun, meski tenaga tua, vokal mereka cukup lantang untuk didengar hingga di sudut-sudut ruang.

foto: pitogoestin
  Sayangnya, tawa dan celetukan penonton yang tak memenuhi ruangan itu tak bertahan selama dialog yang diucapkan tiap-tiap pemain. Terlihat ada kejenuhan saat tiba di puncak klimaks. Beberapa penonton pun sempat ada yang sudah meninggalkan ruangan. Durasi waktu yang nyaris memakan 2,5 jam dimulai pukul 20.15 WIB itu diakui Pelog sebagai salah satu alasannya. 
“Ada beberapa pemain yang berimprovisasi dalam dialog. Bagaimana pun, itu juga turut menambah durasi waktu. Tampilan berikutnya akan coba dipadatkan,” kata Pelog. 
Lakon yang diambil dari salah satu karya almarhum Kenthut Bambang Widoyo mengisahkan kehidupan warga di tanah magersari. Sebuah istilah bagi komunitas yang nebeng untuk tinggal di tanah pekarangan orang lain, dengan perjanjian juga batas waktu yang kabur. Itu pun karena kebaikan Pak Darso, pemilik tanah yang sudah meninggal. Namun kehidupan menjadi terbalik saat berhembus desas-desus, Menik, anak perempuannya berniat menjual tanah itu. Warga magersaren yang rata-rata dari kaum pinggiran pun kelabakan, akan tinggal di mana nantinya. 
Mbah Kawit yang sering dipanggil “dhanyange” oleh Lik Bismo dan Bibit karena dia generasi pertama yang tinggal di tanah magersari yang masih hidup, adalah salah satu yang getol mempertahankan tanah magersaren. Dia hanya berpatokan pada wasiat Pak Darso, bahwa tanah itu tak boleh dijual. Perempuan itu menganggap, awal bencana sudah terlihat sejak sumur sebagai sumber kehidupan itu sudah mulai disalahgunakan. Dikencingi, tempat berkeluh kesah, jadi tempat sampah, yang semestinya menjadi pantangan. 
“Sumur kuwi ora nggo buang pauwan. Nanging sumber panguripan. Yen ngedohi banyu, kuwi ngedohi rezeki,” pesannya. 
Dia pun tak berdaya saat api melahap satu persatu rumah di kampung itu. Namun cita-citanya untuk mati di sana, terpenuhi. (PITO AGUSTIN RUDIANA)


Tentang Teater Lungid

AWALNYA bernama Teater Gapit yang berdiri pada 1981 di Surakarta. Sebuah nama yang diambil dari nama salah satu pintu di Keraton Surakarta, tempat mereka janjian bertemu untuk latihan. Di sana ada nama-nama seperti Kenthut Bambang Widaya SP, si pembuat naskah, juga Pelog Trisno Santosa, si sutradara. TUK sebagai lakon terakhir yang dipentaskan pada akhir 1997, sepeninggal sang penulis skenario yang membukukannya bersama karya-karya lainnya yang sudah pernah dipentaskan. Ada Brug, Suk-suk Peng, Rol, Leng, Dom, juga Reh. Sedangkan Luh belum pernah dipentaskan.
Tapi sejak 24 Juni 2008 lalu, Teater Gapit berganti nama dengan Teater Lungid. Kami cuma tak ingin beromantisme dengan masa lalu. Tapi ingin tetap melestarikan teater berbahasa Jawa yang nyaris belum pernah ada,” kata Budi Prasetyo, pimpinan Teater Lungid.
Lungid sendiri berarti tajam, juga cerdas. Meski ganti nama, namun para pemainnya tetaplah sama. Para pemain yang sudah beranjak menua. (PITO AGUSTIN RUDIANA)


Kamis, 29 Mei 2008

Klangenan Sriwedari

Riwayatmu...

foto: pitogoestin

SLAMETO WS (59) kembali melemparkan kailnya ke dalam kolam yang airnya berwarna kuning kehijauan di depannya. Tali pancingnya diulur panjang demi bisa menggapai air kolam yang terlihat jauh dari permukaan kolam. Sembari menjepit pangkal tongkat pancingnya dengan sebelah telapk kakinya agar tak jatuh ke kolam, kedua tangannya yang telah keriput dimakan usia mulai memain-mainkan pelet. Umpan ikan berwarna cokelat mudah itu diberinya sedikit air agar sedikit lembek, lalu dibuatnya menjadi bulatan-bulatan kecil. Selanjutnya menunggu giliran jika umpan pertama tak terlahap mulut ikan yang diburunya.
Tak jauh beda dengan karibnya, Haryadi (52) yang duduk di sebelahnya. Entah sudah berapa batang rokok habis diisapnya sembari menunggu mata kailnya bergerak karena tersentuh mulut ikan-ikan di sana. Toh, kantong plastiknya masih juga kosong. Sebelah kakinya ditekuk dan didekapnya di dada. Sebelah lagi dijulurkan ke kolam seolah ingin menggapai permukaan air kolam. Namun kian jauh tak tergapai karena kian dangkal. Sedangkan dasar kolam yang semestinya terlihat jelas, kian buram oleh kumuhnya sampah dedaunan dan warna air kolam yang tak lagi jernih. Sementara itu, dua orang bocah seusia anak SMP mulai menghitung ikan-ikan Red Devil di dalam kantung plastik bening ukuran satu kiloan. Ada tiga ikan hias warna merah yang berhasil dipancingnya dan siap untuk mengisi akuarium di rumahnya.
“Dulu kedalaman airnya semeter lebih. Bahkan waktu SMA, saya suka berenang di sini,” kenang Slameto membuka perbincangan akan Taman Segaran, sebuah kolam yang berbentuk melingkar di komplek Sriwedari Solo itu, 29 Mei 2008.
“Jembatan itu dulunya dari kayu, sekarang sudah jadi beton. Terus pagar di sisi selatan itu dulu hanya dari kawat berduri, bukan tembok seoerti sekarang. Dulu saya suka ke sini mbrobos dari situ, biar nggak bayar tiket,” lagi-lagi pensiunan tukang wara-wara film keliling itu berkisah.
Rupanya Sriwedari begitu lekat dalam kenangan masa mudanya. Pun kini, menjelang senja yang dihabiskannya untuk memancing ikan di Taman Segaran. Meski pun tak harus ada seekor ikan yang dibawanya pulang.
Jika dilihat, Segaran adalah satu-satunya bangunan di Sriwedari yang menandakan kedekatannya dengan alam. Belum lagi pepohonan asem juga beringin dengan daunnya yang rimbun memayungi tepian kolam. Saban hari, meski jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari, ada saja pemancing yang di sana. Rata-rata kaum adam, baik tua mau pun anak kecil. Mereka duduk berjejer di tepian Segaran dengan peralatan masing-masing. Hanya itu, aktivitas yang masih bisa dilakukan di Segaran. Tak lagi bisa berlayar dengan perahu kecil karena kedalaman air yang dangkal. Pun menyisakan sebuah perahu kecil yang dibiarkan terapung-apung di tengah kolam dan sebuah dermaga kecil di ujung barat yang tak lagi berfungsi.
Sementara itu, di sebuah daratan kecil yang dibuat tinggi di tengah kolam --laiknya Pulau Samosir di Danau Toba—yang disebut Taman Kapujanggan, tampak sebuah bangunan kecil yang kini menjadi gudang. Dua bua jembatan yang dibuat melengkung di sisi utara dan selatan menjembatani pengunjung yang ingin ke sana. Menurut Slameto, dulu bangunan tersebut dibuat asri dengan alunan musik keroncong yang dimainkan para musikus tunanetra. Tak hanya itu, para raja dari Kasunanan Surakarta sering berkunjung ke sana pada malam ke-21 pada bulan puasa atau malam Lailatul Qadar untuk bersemedi di Gua Swara yang ada di bawahnya. Yakni sejak masa Paku Buwono X dan tak lagi berlangsung pada masa Paku Buwono XII. Itulah mengapa Sriwedari, konon adalah tempat wisata raja-raja Surakarta sehingga sempat akrab disebut dengan Kebon Raja.
Berdasarkan sejarah, sebagaimana dikemukakan budayawan Surakarta, Kalingga, bahwa bangunan awal di Sriwedari adalah Gedung Kadipolo yang kini menjadi Museum Radya Pustaka yang berada di sebelah timur Taman Segaran, serta Segaran itu sendiri. Tanah Gedung Kadipolo diambil dari tanah sitihinggil, sedangkan air di Taman Segaran dialiri langsung dari mata air di Pengging, Kabupaten Boyolali. Pembangunan Sriwedari sendiri dimulai pada 1 Januari 1901 pada masa pemerintahan Paku Buwono X.
“Pentas wayang orangnya sudah ada sejak 1907. Sedangkan untuk bioskop sudah ada sejak ada gambar sorot bisu (film bisu). Mulai 1927 juga diramaikan maleman Sriwedari dengan semacam pasar malam. Ya, setelah malam 21 puasa itu,” tutur Kalingga.
Ditambahkan oleh Kepala Sie Pelayanan dan Informasi Wisata Dinas Pariwisata Solo, Mufti Raharjo, pembangunan Sriwedari sendiri yang berdiri di atas lahan seluas sekitar 10 hektar itu diilhami adanya taman untuk konservasi alam yang dibangun Belanda di Bogor. Sedangkan nama Sriwedari diambil dari istilah surga atau taman yang indah sekali dalam dunia pewayangan. Sebagaimana pernah dikemukakan Slameto, bahwa nama itu ada dalam kisah pewayangan Sumantri dan Sukasrana.
“Jadi pada masa PB X itu sangat memperhatikan konsep keseimbangan alam. Makanya Sriwedari pun dibangun dengan konsep tersebut. Yakni taman yang dijadikan sebagai hutan kota sekaligus resapan air. Itu bisa dilihat dari Taman Segaran. Dulu, air dari umbul Pengging itu mengalir terus,” tutur Mufti.
Pada 1980-an, Walikota Solo kala itu melakukan revitalisasi. Antara lain, memindahkan kebun binatang ke Taman Jurug. Dan Walikota sekarang, Joko Widodo pun berniat untuk merevitalisasi Sriwedari kembali ke konsep awal, sebagai konservasi alam. Hanya saja, kapan terealisasi, belum ada kepastian. 
foto: pitogoestin
Namun jika ditilik dari bangunan di atas lahan seluas sekitar 10 hektar itu, memang tak hanya Taman Segaran yang menjadi ciri khas Sriwedari. Dimulai adanya stadionnya sebagai ajang pertandingan sepakbola. Bahkan Pekan Olah Raga Nasional (PON) kali pertama di Indonesia pada 1949 digelar di sana. Di sebelah timurnya adalah taman hiburan rakyat (THR). Di sana biasa digelar pentas musik dangdut dengan grup musik yang rata-rata dari kawasan lokal. Kebanyakan adalah kaum muda mudi yang rela berjubel demi bisa bergoyang di sana.
Di tempat itu pula menjadi jujugan utama anak-anak usia bawah lima tahun (balita) hingga sekolah dasar (SD). Pasalnya, aneka permainan seperti komidi putar, bom bom car atau yang biasa mereka sebut mobil senggol, dan sejenisnya ada di sana. Tempat tersebut mulai ramai dikunjungi pada akhir pekan, kala anak-anak libur sekolah.
Di sebelahnya lagi adalah kawasan dimana bangunan-bangunan untuk berkesenian dibangun. Saat datang, pengunjung disambut oleh gapura dengan loket karcis yang terlihat sepi pada hari-hari biasa. Namun sejak malam Minggu hingga Minggu malam, siapa yang ingin masuk harus merogoh kocek sebesar Rp 1.000. Sebuah pendapa untuk aneka pentas seni, seperti teater atau pun wayang kulit berada di sisi tengah, usai lokasi parkir mobil. Di depan pendapa bertengger patung Gathotkaca yang tengah memangku istrinya, Pergiwa dalam lakon wayang “Pergiwa Pergiwati”.
“Patung itu untuk menghormati Pak Rusman dan Bu Darsi. Keduanya adalah pemain lama wayang orang yang sangat disegani yang sering memainkan lakon Gathotkaca dan Pergiwa. Tapi Pak Rusman sudah meninggal dunia,” tutur Welas (52), pedagang kupat tahu yang mangkal di sana sejak 1979.
Nasib patung yang dipoles dengan cat kuning keemasan itu terlihat tak terawat. Sebelah tangan Pergiwa buntung hingga ujung lengan dan sebelah tangan Gathotkaca putus hingga pangkal lengan. Tak jauh beda dengan kondisi pendapa yang catnya terlihat kusam. Pendapa itu sendiri lebih banyak dipergunakan pengunjung untuk beristirahat karena kelelahan, sekedar ngobrol dengan rekan, atau membaca koran.
Sedangkan gedung wayang orangnya itu sendiri terletak di sisi belakangnya. Kondisinya pun tak terlalu bagus. Atap gedung yang terbuat dari papan triplek, sebagian sudah terlihat menganga. Sungguh pun demikian, Gedung Wayang Orang Sriwedari itu merupakan gedung kesenian yang paling aktif digunakan ketimbang bangunan seni lainnya di sana. Tiap malam, mulai pukul 20.00 WIB hingga tengah malam, sebuah pentas wayang orang pasti dipertunjukkan. Bahkan sebuah jadwal pentas dengan lakon yang berbeda telah tersusun dari tanggal satu hingga terakhir dalam satu bulan. Jadwal yang hanya diketik dengan komputer pada selembar kertas putih itu tertempel di kaca meja loket.
“Yang main bagus-bagus, kok. Ya, ketimbang dulu lebih bagus sekarang. Bisa dilihat dari busananya lebih lengkap, tariannya lebih luwes, tata panggungnya juga lumayan. Cuma Rp 3.000,” terang Harmanto (42).
Lelaki nyaris paruh baya itu terlihat duduk-duduk di teras gedung dengan sebuah sepeda ontel di sampingnya. Dia mengaku suka menonton wayang orang di sana, meski harus rela mengayuh sepedanya dari Cemani, Kabupaten Sukoharjo. Di tengah kesendiriannya, dia menikmati suara musik yang terdengar campur bawur dari aneka permainan anak di THR yang ada di sisi baratnya.
“Padahal itu (THR) dulu adalah kebun binatang. Tapi sejak dibangun Taman Jurug, binatang-binatang di situ dipindah ke sana. Masih ingat saya, saat melihat gajah-gajah itu diangkut pakai truk,” akunya sambil tersenyum simpul.
Di sisi utara gedung terdapat area parkir untuk kendaraan roda dua. Pun ditambah bangunan-bangunan berukuran kecil sebagai warung makan. Sayangnya, penempatan bangunan-bangunan itu tak memperhatikan estetika yang baik agar mengesankan. Justru terkesan seadanya.
Jika menginginkan suasana yang sepi, namun tak nyaman, bolehlah berjalan ke arah timur. Di sanalah, bangunan Solo Theatre yang sudah tak lagi memutar film sejak sekitar 1996, masih berdiri. Tak ada sisa-sisa poster-poster film di sana. Siapa pun yang baru kali pertama ke sana, tak menyangka bahwa bangunan dengan dinding depan berupa kaca rayban hitam itu dulunya adalah gedung bioskop. Saat mengintip dari kaca, tampak beberapa meja tak tertata rapi. Tumpukan poster-poster film dibiarkan teronggok di dekat pintu masuk ke studio. Atap langit-langit pun serasa akan jebol karena menganga di sana sini. Dan saat melihat pintu studio yang terbuka, tampak samar-samar beberapa anak tangga yang dilapisi karpet merah menjadi jalan masuk penonton. Selebihnya, gelap.
“Kalau ingin adu nyali ya, di sana (gedung bisokop) itu. Jadi kalau nonton pasar malam, nggak usah ke rumah hantu, ke bioskop itu saja,” gurau Slameto memberi perumpamaan, betapa angkernya gedung itu.
Dia sendiri enggan menjelaskan seperti apa keangkeran yang dimaksud. Dulu, tiap ada film baru, lelaki kurus itu bertugas menginformasikan kepada masyarakat lewat pengeras suara dengan mobil yang membawanya berkeliling. Meski dicap angker, tak demikian bagi beberapa pengemis dan gelandangan di sana. Bahkan mereka memanfaatkan teras bangunan pada sisi barat dan selatan sebagai tempat beristirahat. Lengkap dengan aneka buntalan warna kusam dan kumuh yang bagi mereka tetaplah berguna meski bagi orang umumnya sudah terbuang. (PITO AGUSTIN RUDIANA)