Tampilkan postingan dengan label klangenankopikoe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label klangenankopikoe. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Agustus 2009

Klangenan Museum Batik

Batik-batik Kuno Dalam Gelap

foto: pitogoestin
RUANGAN yang cukup luas itu terihat sempit. Lantaran suasananya yang gelap tanpa ada lampu penerangan sedikitpun. Jendela-jendela kayu yang ada di dalam ruangan itu pun ditutup rapat, seolah sengaja untuk menghalau sinar apapun yang masuk ke dalamnya. Hanya seberkas sinar matahari yang menerobos masuk melalui pintu utama Museum Batik Yogyakarta yang berlapis kaca. Sementara itu, kain-kain batik aneka corak yang jumlahnya sekitar 500-an lembar itu seolah dibiarkan berdiam di sana dalam gelap dan sepi. 
“Ini adalah salah satu upaya menjaga agar kain-kain batik itu tahan lama,” kata Prayoga, kurator batik yang sehari-hari bekerja di museum batik itu, 26 Agustus 2009.
  Menurut Prayoga, faktor suhu dan cahaya sangat berpengaruh dalam perawatan batik. Tidak boleh terkena cahaya langsung dan dijauhkan dari kelembapan adalah syarat utama agar batik awet dan warnanya tak lekas pudar. Cara menyimpannya pun harus hati-hati. Kain-kain batik itu dilipat dengan lebar sekitar setengah meter, kemudian dihamparkan pada selembar papan, lalu dibungkus dengan plastik tebal transparan. Setiap tiga bulan sekali, kain-kain yang dipajang dalam posisi berdiri itu diberi akar wangi yang diletakkan di sela-sela kain agar kain terhindar dari aneka binatang perusak dan tetap wangi.
  Maklumlah, kain-kain batik yang disimpan di sana bukanlah kain-kain batik sembarang batik. Kain-kain batik yang disimpan adalah yang mempunyai usia tua, sehingga corak-corak batiknya pun klasik. Tertua adalah batik pada zaman kerajaan Jawa-Hindu yang dibuat pada 1212. Mayoritas adalah batik-batik tulis Jawa yang asalnya beragam, yakni meliputi kawasan di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagian Jawa Barat, Jawa Timur, dan Madura.
  Secara garis besar, jenis batik yang disimpan di sana terbagi menjadi dua jenis, yakni batik keratonan, seperti batik Solo dan Yogyakarta serta batik pesisiran yang meliputi batik Cirebon, Pekalongan, hingga Madura.
  Perbedaan jenis keduanya terletak pada warnanya. Warna pada batik keratonan cenderung didominasi cokelat sogan. Lantaran ada empat warna dasar pada jenis batik yang murni dibuat dengan menggunakan alat berupa canting itu, yakni warna biru, putih, hitam, dan sogan. Perpaduan warna-warna itu yang kemudian menjadi ciri khas warna batik keratonan.
  Sebut saja, sarung panjang Soga Jawa yang bercorak boketan adu jago berdasar polos yang berwarna soga jawa, hitam, dan putih. Batik yang dibuat dengan teknik batik tulis sedang itu berasal dari Yogyakarta yang dibuat Nyonya Lie Djing Kiem antara 1920-1930. Ada pula kain panjang Soga Jawa asal Klaten, Jawa Tengah pada 1950-1960. Kain batik berpola loreng besar curigo dan pari sewuri itu dibuat dengan teknik batik tulis sedang. Begitu pun dengan kain panjang Soga Kuning asal Surakarta pada 1960-1970 yang dibuat dengan teknik batik tulis sedang. Batik tersebut mengambil corak ceplok kembang terompet berlatar belakang mukti luhur berseling.
  Sedangkan warna batik pesisir cerah dan dekoratif. Seperti ada warna merah, hijau, dan sebagainya.
  “Sehingga tidak hanya pakai canting, tapi juga colet (semacam kuas),” kata Prayoga.
  Seperti sarung Isen-isen Antik yang bercorak boketan isen-isen dengan dasar galar berseling halus dan terlihat unik. Batik berwarna kombinasi biru tom, kuning kayu, dan hijau itu dibuat dengan teknik batik tulis halus cecek jarum yang berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah pada 1880-1890.
  “Kelangkaannya ditandai dengan warna batik yang biru tua, cokelat, hitam, atau putih,” kata Prayoga yang menceritakan cara membedakan batik-batik kuno dan modern.
  Begitu pula dengan coraknya yang terlihat menggambarkan sesuatu benda yang imajinatif. Semisal, lukisan burung dalam kain batik kuno tidak bisa ditebak secara pasti jenis burung yang dimaksud, lantaran khayalan. Bahkan pada corak batik buatan zaman Jawa-Hindu berbeda dengan pada zaman Islam. Pada zaman Jawa-Hindu, gambar burung pada batik terlihat utuh. Namun pada zaman Islam hanya terdiri potongan-potongan dari bagian-bagian struktur tubuh burung.
  “Karena ada keyakinan, bahwa agama Islam melarang menggambar makhluk hidup,” kata Prayoga.
  Sedangkan kain-kain batik modern terlihat dinamis, baik warnanya yang cerah maupun corak-coraknya yang merupakan hasil modifikasi motif-motif batik kuno. Tak heran, jika perburuan kain-kain batik tua dan langka itu cukup sulit. Adalah Raden Nganten (RNgt) Dewi Sukaningsih (79), pemilik museum yang disebutnya museum batik tertua di Indonesia itu yang resmi berdiri pada 1979. Dewi menuturkan, awalnya koleksi museum merupakan batik-batik peninggalan neneknya Sie Kee Hok dan ibunya Lusyana Ong. Keduanya biasa membeli kain-kain batik kuno di tempat-tempat yang disinggahinya. Saat itu, jumlahnya hanya sekitar 30-40 lembar. Lantaran wasiat ibunya untuk merawat dan melestarikan batik-batik kuno itu, maka Dewi mendirikan museum tersebut. 
  Untuk menambah jumlah koleksi, Dewi mengumpulkannya dari batik milik saudara-saudaranya. Ada yang boleh diminta, ada pula yang harus membeli. Begitu pun dengan orang-orang yang sengaja datang kepada Dewi untuk menjual kain-kain batik peninggalan leluhurnya. Saat itu, Dewi membelinya seharga Rp 100.000 hingga Rp Rp 300.000.
  “Syaratnya harus langka, kalau nggak ya, nggak saya koleksi,” kata Dewi.
  Lantaran spesifikasi jenis batik langka, kuno, dan klasik saja yang disimpannya, akhirnya mengundang banyak kolektor batik datang untuk membelinya. Namun Dewi tegas menolak.
  “Apa artinya museum, kalau yang tua hilang,” kata Dewi.
  Tak heran, Dewi yang juga mahir membatik dan mendirikan tempat kursus membatik itu tidak menyimpan aneka batik modern. Begitu pun batik-batik buatannya. Alasannya, karena usia batik belumlah tua. (PITO AGUSTIN RUDIANA)
 

Baju Brokrat Bu Tien Terlihat Transparan

TERNYATA tak hanya mengoleksi batik, Raden Nganten Dewi Sukaningsih juga mengoleksi sekitar 50-an sulaman yang dimuseumkan satu tempat di museum batiknya. Sulaman-sulaman buatan tangannya sendiri itu pun meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MuRI) lantaran satu-satunya museum sulaman yang ada di Indonesia. Dewi memulai menyulam saat harus menunggui suaminya, Hadi Nugroho yang tergolek karena stroke pada 1980.
Uniknya, motif sulamannya bukan berdasarkan dari gambar-gambar motif sulaman yang beredar di pasaran. Melainkan diambilnya dari aneka lukisan maupun foto yang dimilikinya. Sehingga Dewi akan membuat sketsa pada kain sulamnya sebelum menyulam.
“Kalau ada yang tanya, motif-motif sulaman saya apa, ya saya jawab motif acak, karena memang acak-acakan,” kata Dewi.
foto: pitogoestin
Semisal, dia membuat sulaman dari lukisan Kebangkitan Yesus Kristus yang diselesaikannya selama 1,5 tahun. Ataupun sulaman dari lukisan penyaliban Yesus Kristus yang dirampungkan selama 3,5 tahun karena cukup panjang.
  Kebanyakan adalah sulaman yang diambilnya dari foto-foto tokoh maupun keluarganya. Antara lain foto Presiden RI  Soekarno dan Soeharto, Presiden AS Ronald Reagen, Presiden Philipina Corazon Aquino, juga foto Siti Hartinah Soeharto dan Hamengku Buwono IX. Hasil sulamannya terlihat hidup seperti gambar aslinya. Seperti sulaman sosok Bu Tien yang terlihat menggunakan baju brokat dan terlihat transparan hingga kulit punggung lengannya kelihatan. Atau sulaman sosok Aquino yang bisa menunjukkan kebeningan kacamata yang dipakainya. Juga foto sosok HB IX yang diperoleh Dewi seminggu sebelum HB IX wafat yang menunjukkan kerut-kerut kulit wajahnya. Mengapa sulamannya terlihat hidup?
  “Karena dibuat dengan perasaan, mood-nya pas baik,” kata Dewi yang memajang kerajinan tangannya itu pada pigura berlapis kaca di dinding museumnya. (PITO AGUSTIN RUDIANA)

Rabu, 15 April 2009

Klangenan Pasar Kotagede

Tiang Pancang dari Rel Kereta Api

foto: pitogoestin
WAJAH pasar sebagai pusat perekonomian serasa tak lekang tergambar di Pasar Legi Kotagede. Pasalnya, perputaran roda dari waktu ke waktu tak membuat pasar tradisional di Kecamatan Kotagede, Kota Yogyakarta itu mati. Sedari pagi hingga kembali ke pagi lagi, pasar itu tetap meriakkan tanda-tanda kehidupan. 
“Pasar Kotagede itu dua puluh empat jam,” kata Rustandi, pedagang sembilan bahan pokok (sembako) yang berjualan di sana sejak 1974 kepada Tempo, Rabu (15/4/2009). 
Kehidupan yang tak surut itu bisa dilihat sejak kedatangan bakul-bakul sayuran di pasar peninggalan kerajaan Mataram. Mereka datang seiring mobil-mobil bak terbuka yang mengangkut aneka jenis sayuran dari berbagai daerah pada pukul 02.00 WIB. Aktivitas jual beli pun berlanjut hingga pukul 12.00 WIB siang. 
Di dalam pasar pun tersebar berbagai macam jenis barang tradisional yang ditawarkan dan dijual. Meski masih terlihat acak, pembeli tak begitu sulit menemukan barang-barang yang dicarinya. Semisal, di bangunan ujung selatan adalah tempat dijualnya berkarung-karung arang. Kondisi yang terlihat kumuh pun terlihat di arena penjualan bahan bakar yang masih banyak dipergunkan masyarakat Kotagede itu. Menyisir ke arah utara mulai dijual bumbu pasar dan sayuran. Tak ketinggalan los daging yang menempati bangunan tersendiri di tengah pasar. Kemudian aneka perkakas dapur, mulai dari besek, tampah, tusuk sate, dan sebagainya dijual di sisi timur. Juga sembilan bahan pokok (sembako) dan perhiasan emas yang banyak disediakan di kios-kios pasar yang melingkar di sisi luar dari utara ke barat. Sedangkan pakaian, sepatu, sandal dijual di sisi luar pasar sebelah timur. 
Pergantian waktu pun mengiringi pergeseran jenis barang yang dijual. Meski kios-kios masih buka seiring lorong di dalam pasar kian sepi, keramaian bergeser ke pelataran pasar di sisi utara dan barat. Aneka jenis sayuran dan bahan mentah makanan lainnya yang dijual pagi hari telah berubah menjadi bermacam-macam makanan jadi untuk dijual sore hari. Para pedagang menjualnya dengan gerobak dorong. Ada gerobak isi klepon dan getuk, ada gerobak gorengan, gerobak gudeg, dan sebagainya. Jika menginginkan lauk dan sayur untuk teman makan malam hari pun disediakan mbok-mbok bakul pecel, gudangan, juga cap jay. Atau merindukan jajanan tradisonal serupa ketela rebus, singkong rebus, pisang rebus, kacang rebus, gatot, tiwul, gerontol, juga entok-entok (jajanan dari jagung yang ditumbuk dan dicetak bulat-bulat), tersedia pula. 
“Harganya murah dan banyak. Beli gatot dan tiwul Rp 1.000 nggak habis, bisa dibagi tiga bungkus,” kata Mohammad Natsir, warga asli Kotagede yang menjadi Ketua Yayasan “Kantil”, lembaga pengembangan sni budaya Kotagede. 
Tak ketinggalan jajanan-jajanan pasar yang menempati lapak-lapak di sudut barat laut yang menyediakan arem-arem, putu ayu, wajik, lemper, juga kipo dari kata “iki opo”, makanan khas Kotagede. 
“Kalau hari biasa, kami buat 250-an bungkus, kalau hari minggu sampai 500-an,” kata Amanah, penjual kipo yang meneruskan usaha neneknya, Jito yang hidup semasa penjajahan Jepang. Harganya pun murah, sebungkus Rp 500 yang berisi lima biji. 
Sekitar pukul 21.00 WIB ke atas, jenis makanan yang ditawarkan pun berubah, mengikuti selera pembeli malam hari. Sebutlah aneka wedang, seperti wedang ronde yang dijual Rp 2.500 per mangkuk, juga wedang kunir asem Rp 1.500. Tak lupa angkringan yang menyediakan nasi kucing beserta lauknya. Tak sekedar datang mampir ngombe, pelataran pasar pun dijadikan ajang ngobrol aneka topik. Diterangi nyala lampu dengan stop kontak yang dipasang di pepohonan depan pasar dengan kabel yang berseliweran di atasnya. Kehangatan sajian malam itu akan menemani hingga para bakul sayur kembali berdatangan. 
“Makanya, kami berencana menjadikan pasar Kotagede sebagai wisata kuliner malam hari,” kata Natsir yang mengaku tengah melakukan pembahasan dengan beberapa pihak yang peduli untuk merealisasikan rencana itu. 
Rencana tersebut tak lebih dari sebuah upaya untuk menegaskan kembali pasar tradisional tersebut, tak hanya sebagai pusat ekonomi, namun juga pusat peradaban Kotagede. Mengingat Kotagede sendiri menjadi kawasan yang sempat ‘hilang’ sejak keraton berpindah dari Kotagede ke Pleret, kemudian ke Kartasura dan ke Surakarta. Jenis-jenis barang dan makanan yang dijual cukup mencerminkan peradaban masyarakat yang mendiami kawasan tersebut. Begitu pula aktivitas dan karakter masyarakat di dalamnya. Terbukti, papan bertuliskan “Pasare resik, atine becik, rezekine apik” tertempel di beberapa bagian dinding pasar. Meskipun kondisi pasar yang kumuh, kotor, dan bau masih terlihat di beberapa sudut pasar. 
“Kita lupa, bahkan mengabaikan bahwa Pasar Kotagede ini situs sejarah,” tandas Natsir.

foto: pitogoestin
Sisa-sisa peninggalan sejarah itu bisa dilihat dari empat bangunan di sana. Bangunan pasar itu sendiri yang lokasinya di sebelah utara alun-alun Kerajaan Mataram. Ada monumen atau tugu peringatan jumenengan Sultan Hamengku Buwono IX yang dibuat masyarakat setempat tertanggal 18 Maret 1940 yang terletak di sisi timur laut pasar dengan aksara Jawa. Kemudian gardu listrik (aniem) peninggalan pemerintah kolonial Belanda di sisi barat laut dan monumen jumenengan Paku Buwono X.
 
Upaya yang telah dilakukan antara lain mengembalikan bentuk bangunan pasar, monumen, serta gardu listrik seperti asalnya berbekal dokumentasi foto pribadi tahun 1971. Menurut Natsir, gempa 2006 yang merobohkan bangunan bagian depan pasar dan tugu monumen itu menjadi kesempatan untuk melakukan konservasi bangunan cagar budaya itu seperti sedia kala. Dari sanalah, Natsir mengaku diingatkan. Bahwa bangunan pasar tradisional itu menggunakan konstruksi dari rel kereta api yang terbuat dari baja. Konstruksi-konstruksi tersebut masih terlihat pada langit-langit atap bagian dalam bangunan, maupun kosntruksi los-los pasar di dalamnya. Hal tersebut dibenarkan Rustandi yang menilai besi-besi baja itu adalah peninggalan Belanda. 
“Kami diingatkan, bahwa konstruksi dari rel kereta api itu keunikan pasar Kotagede,” kata Natsir. 
Kini, wajah pasar itu kembali ke bentuk lama. Termasuk menghilangkan pagar pembatas dari kawat berduri, sehingga tak ada lagi sekat-sekat antara pasar dengan manusia di sekitarnya. Meskipun, diakui Natsir, proses konservasi itu membutuhkan waktu yang tak sedikit. 
“Minimal 20 tahun,” kata Natsir. (PITO AGUSTIN RUDIANA)
 
   
Kini Disebut Pasar Legi Kotagede
 
Saat Ki Ageng Pemanahan atau kakek buyut Sultan Agung Hanyakrakusuma melakukan babat alas Mentaok, yang kemudian menjadi cikal bakal Kotagede, pasar menjadi bangunan pertama yang dibangun sebagai pusat ekonomi seiring bangunan rumah-rumah warga di sebelah utara pasar. Baru kemudian menyusul bangunan keraton, alun-alun di selatan pasar, dan masjid. Begitulah konsep catur gatra yang menjadi ciri khas bangunan keraton Hindu kuno, termasuk Kerajaan Mataram.
foto: pitogoestin
Laiknya pasar-pasar tradisional lainnya, pasar Kotagede mempunyai puncak keramaian sendiri, yakni tiap pasaran Legi hingga kini. Dengan alasan itu pula, Muhammad Natsir bersikukuh mengubah nama Pasar Kotagede menjadi Pasar Legi Kotagede pascagempa 2006 lalu. Sekaligus untuk membedakan dengan Pasar Gede dan Pasar Legi di Surakarta yang mempunyai usia historis jauh lebih muda ketimbang Pasar Legi Kotagede. Nama itu pula yang kini menghiasi atap depan pasar yang tengah memasuki tahap konservasi bangunan cagar budaya. Apalagi, Sultan Agung sebagai Raja Mataram ketiga (1612-1645) merupakan sosok penemu penanggalan Jawa. 
“Jadi Legi bukan sekedar pasaran, tapi konsep pemerataan ekonomi,” tandas Natsir.
Pemerataan ekonomi terlihat lantaran untuk pasaran selain Legi, keramaian bergeser ke pasar-pasar tradisional lainnya. Sayangnya, konsep itu mulai bergeser pada prinsip kapitalisme untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, tanpa mau berbagi dengan yang lain. Terbukti, saat pasaran Legi tiba, masih banyak pedagang yang berjualan di luar kawasan pasar. Padahal pasar adalah kawasan yang menjadi hak bagi pedagang untuk berjualan, pun ketika hari pasarannya tiba. (PITO AGUSTIN RUDIANA)

Rabu, 26 November 2008

Klangenan Ki Hadjar Dewantara

Rumah Ki Hadjar pun Dimuseumkan 

foto: pitogoestin

BANGUNAN rumah nan asri itu berada satu komplek Yayasan Persatuan Taman Siswa di Jalan Taman Siswa Kota Yogyakarta. Siapapun bisa langsung menjumpainya saat masuk lewat gerbang utara, karena rumah mungil itu berada di sisi utara. Semua daun pintu dan jendela yang memanjang – arsitektur khas ala Belanda – itu dibiarkan terbuka. Seolah-olah senantiasa siap menerima persinggahan siapapun yang datang ke sana. Hanya sesekali daun pintu bagian selatan terhempas karena dorongan angin yang terkadang bertiup cukup kencang. Namun tiada tanda-tanda kehidupan di dalam rumah maupun seputaran teras yang diteduhkan dedaunan dari dua pohon kembang kamboja di halaman yang sudah dimakan usia. Setua rumah mungil peninggalan Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara yang telah beralih fungsi menjadi museum. 
“Biar nggak lembab, makanya diangin-anginkan,” kata Sri Muryani (44), salah satu pengelola perpustakaan dan Museum “Dewantara Kirti Griya (rumah yang berisi hasil kerja Ki Hadjar Dewantara)” saat ditemui Tempo, Rabu (26/11/2008) lalu, mengomentari daun-daun jendela dan pintu yang dibiarkan dibuka. 

Begitulah cara murah dan praktis yang dilakukannya. Mengingat biaya perawatan atas barang-barang koleksi di dalam museum tiadalah sedikit. Sebuah persoalan klise yang hampir dialami semua museum di Indonesia. 
“Untuk biaya perawatan barang-barang koleksi saja butuh sekitar Rp 50-an juta,” kata Muryani. Padahal, jika hanya mengandalkan tiket masuk dari pengunjung saban tahunnya, tiada cukup. Sebutlah. Biaya masuk bagi pelajar Rp 1.000, mahasiswa atau umum sejumlah Rp 2.000, dan bagi wisatawan mancanegara sebesar Rp 5.000 yang semuanya per kepala. Itu pun tak setiap hari ada pengunjung yang datang. Biasanya pada hari libur sekolah. Pengunjung kebanyakan pun para pelajar dari sekolah-sekolah di luar Yogyakarta. Sedangkan berdasarkan data yang dimilikinya, pada 2006 ada 3.758 orang pengunjung, pada 2007 ada 4.768 orang, dan pada 2008 meningkat menjadi 5.046 orang.

“Tahun ini, pemerintah provinsi memberi bantuan alat perawatan,” bebernya, seperti vacuum clenaner, tabung pemadam kebakaran, juga obat-obatan. Padahal, koleksi buku-buku, majalah, juga koran yang usianya sudah berpuluh tahun dalam museum itu membutuhkan perawatan khusus. Seperti fumigasi yang biayanya sangatlah mahal.
“Biasanya kita pakai dana dari biaya masuk pengunjung. Itu pun dipakai bergantian,” terangnya. Semisal, tahun ini untuk fumigasi, tahun depan untuk membeli obat-obatan perawatan lain, tahun berikutnya untuk biaya perawatan bangunan, dan sebagainya.

foto: pitogoestin
Tak hanya rumah hunian peninggalan Ki Hadjar saja yang dimuseumkan. Melainkan juga sebuah Pendapa Agung Taman Siswa – yang merupakan Monumen Persatuan Taman Siswa – yang terletak di tengah halaman komplek. Bedanya, pendapa itu selalu riuh oleh celoteh para pelajar yang tengah rehat di sana. Untuk berlatih tari, teater, berdeklamasi, karate, bahkan untuk tempat pertemuan terbuka. Bahkan menjelang siang, satu dua masyarakat umum menggunakannya untuk istirahat. Semilir angin yang sepoi-sepoi menyejukkan siapa saja yang beristirahat di sana. Di sanalah tempat murid-murid Ki Hadjar menimba ilmu.

“Makanya, tak ada yang tak mengesankan dari sepak terjang Ki Hadjar,” komentar Suratmi (89) – istri mendiang dosen dan pakar hukum adat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Iman Sudiyat – yang merupakan mantan murid Ki Hadjar pada 1937-1939 yang siang lalu sempat singgah sebentar.

Berbeda dengan suasana di rumah Ki Hadjar yang sunyi. Namun kesunyiannya tak menimbulkan rasa ngeri, justru ada rasa nyaman saat berada di rumah seluas 300 meter persegi di atas tanah seluas 2.720 meter persegi itu. Awalnya, rumah itu milik Mas Ajeng Ramsinah – istri orang Belanda – yang kemudian dibeli Ki Hadjar bersama dengan Ki Sudarminto dan Ki Supratolo yang merupakan pamong Taman Siswa pula pada 14 Agustus 1935. Baru pada 16 November 1938, rumah itu resmi dihuni Ki Hadjar bertepatan dengan peresmian Pendapa Agung Taman Siswa. Konon bangunan bergaya klasik kolonial itu dibangu pada 1925. Berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. PM.25/PW.007/MKP/2007 tertanggal 26 Maret 2007, baik rumah maupun pendapa tersebut ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

“Ki Hadjar pula yang menginginkan rumahnya dimuseumkan,” terangnya. Permintaan itu disampaikannya pada Rapat Pamong Tamansiswa pada 1958. Rumah mungil itu dilengkapi dengan teras kecil dengan empat kursi kayu model kuno di atasnya yang menyambut siapa pun yang tiba. 
“Dari sini (sambil menunjuk kursi di teras), Ki Hadjar memperhatikan siswa-siswanya yang ada di pendapa,” kata Mujiono (67), salah satu pengelola yang lain. Sebelum masuk ke ruang keluarga, pengunjung akan diajak memasuki kamar pribadi Ki Hadjar yang terletak di sisi barat banguna bagian depan. Ada sebuah tempat tidur kecil yang cukup untuk satu orang lengkap dengan kelambunya, juga tiga buah tongkat penyangga dari kayu koleksi Ki Hadjar. Tak ketinggalan meja kecil dengan mesin ketik kuno dan kotak kaca berisi sisir, juga bekas sabun mandi Ki Hadjar yang terlihat berwarna kecoklatan dan telah mengeras.
 
Kamar tidur itu berbatasan dengan ruang tamu yang berada di utaranya dengan pintu ruang tamu menghadap ke barat. Itu adalah satu-satunya daun pintu yang tak dibuka karena langsung menghadap ke jalan raya. Selain seperangkat meja dan kursi kayu kuno, juga ada telepon kuno buatan Pabrik Kellog Swedia pada 1927. Untuk menggunakannya pada zaman itu, penelepon harus memutar tuas lalu mendekatkan corong telepon pada telinga yang terpisah dari corong bagian mulut.

Di sebelah timur ruang tamu adalah kamar tidur Nyi Hadjar Dewantara. Tak jauh beda, tempat tidurnya juga dilengkapi kelambu dan berseprei putih. Serta lemari besar yang berisi aneka perabot rumah tangga seperti piring, gelas, dan guci dari keramik.
“Baik Ki Hadjar maupun Nyi Hadjar adalah keturunan Paku Alam III Kanjeng Gusti Pangeran Harjo Soerjo Sasraningrat. Jadi masih sepupu,” terang Mujiono.

Berdasarkan silsilah yang juga terpampang di sana, ayah Ki Hadjar yang mempunyai nama kecil Raden Mas Soewardi Suryaningrat adalah putra ke delapan dari PA III. Sedangkan Raden Ajeng Soetartinah atau Nyi Hadjar adalah putri dari putra ke 13 dari PA III.
Sementara itu, ruang keluarga didesain memanjang dan lebih luas dibanding ruangan lainnya. Ada sebuah kursi goyang kayu kuno lengkap dengan meja beralas keramik di sana. Di atasnya ada sebuah cangkir kuno. “Dari sini, Ki Hadjar memperhatikan putra-putrinya belajar,” kata Mujiono. Sedangkan keenam putra Ki Hadjar belajar lesehan di atas lantai dari tegel.

foto: pitogoestin
Buku-buku koleksi Ki Hadjar tertata rapi di rak-rak buku yang ditutup kaca. Warna kusam menandai betapa kunonya buku-buku itu. Juga ada piano yang digunakan Ki Hadjar untuk menciptakan nada-nada dalam gamelan Jawa yang disebutnya sistem nana Sariswara. Tak ketinggalan pula aneka piagam penghargaan yang diterima Ki Hadjar yang dipigura dan dipasang di dinding. 

Bangunan kuno itu, menurut Mujiono, belum pernah dipugar. Lantaran banguna tersebut dilindungi negara karena termasuk bangunan cagar budaya. Hanya saja, beberapa bagian banguna sempat diganti karena lapuk. Seperti langit-langit rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Juga sedikit perbaikan pada dinding bangunan yang sempat retak karena goncangan gempa pada Mei 2006 lalu. (PITO AGUSTIN RUDIANA)

Kamis, 29 Mei 2008

Klangenan Sriwedari

Riwayatmu...

foto: pitogoestin

SLAMETO WS (59) kembali melemparkan kailnya ke dalam kolam yang airnya berwarna kuning kehijauan di depannya. Tali pancingnya diulur panjang demi bisa menggapai air kolam yang terlihat jauh dari permukaan kolam. Sembari menjepit pangkal tongkat pancingnya dengan sebelah telapk kakinya agar tak jatuh ke kolam, kedua tangannya yang telah keriput dimakan usia mulai memain-mainkan pelet. Umpan ikan berwarna cokelat mudah itu diberinya sedikit air agar sedikit lembek, lalu dibuatnya menjadi bulatan-bulatan kecil. Selanjutnya menunggu giliran jika umpan pertama tak terlahap mulut ikan yang diburunya.
Tak jauh beda dengan karibnya, Haryadi (52) yang duduk di sebelahnya. Entah sudah berapa batang rokok habis diisapnya sembari menunggu mata kailnya bergerak karena tersentuh mulut ikan-ikan di sana. Toh, kantong plastiknya masih juga kosong. Sebelah kakinya ditekuk dan didekapnya di dada. Sebelah lagi dijulurkan ke kolam seolah ingin menggapai permukaan air kolam. Namun kian jauh tak tergapai karena kian dangkal. Sedangkan dasar kolam yang semestinya terlihat jelas, kian buram oleh kumuhnya sampah dedaunan dan warna air kolam yang tak lagi jernih. Sementara itu, dua orang bocah seusia anak SMP mulai menghitung ikan-ikan Red Devil di dalam kantung plastik bening ukuran satu kiloan. Ada tiga ikan hias warna merah yang berhasil dipancingnya dan siap untuk mengisi akuarium di rumahnya.
“Dulu kedalaman airnya semeter lebih. Bahkan waktu SMA, saya suka berenang di sini,” kenang Slameto membuka perbincangan akan Taman Segaran, sebuah kolam yang berbentuk melingkar di komplek Sriwedari Solo itu, 29 Mei 2008.
“Jembatan itu dulunya dari kayu, sekarang sudah jadi beton. Terus pagar di sisi selatan itu dulu hanya dari kawat berduri, bukan tembok seoerti sekarang. Dulu saya suka ke sini mbrobos dari situ, biar nggak bayar tiket,” lagi-lagi pensiunan tukang wara-wara film keliling itu berkisah.
Rupanya Sriwedari begitu lekat dalam kenangan masa mudanya. Pun kini, menjelang senja yang dihabiskannya untuk memancing ikan di Taman Segaran. Meski pun tak harus ada seekor ikan yang dibawanya pulang.
Jika dilihat, Segaran adalah satu-satunya bangunan di Sriwedari yang menandakan kedekatannya dengan alam. Belum lagi pepohonan asem juga beringin dengan daunnya yang rimbun memayungi tepian kolam. Saban hari, meski jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari, ada saja pemancing yang di sana. Rata-rata kaum adam, baik tua mau pun anak kecil. Mereka duduk berjejer di tepian Segaran dengan peralatan masing-masing. Hanya itu, aktivitas yang masih bisa dilakukan di Segaran. Tak lagi bisa berlayar dengan perahu kecil karena kedalaman air yang dangkal. Pun menyisakan sebuah perahu kecil yang dibiarkan terapung-apung di tengah kolam dan sebuah dermaga kecil di ujung barat yang tak lagi berfungsi.
Sementara itu, di sebuah daratan kecil yang dibuat tinggi di tengah kolam --laiknya Pulau Samosir di Danau Toba—yang disebut Taman Kapujanggan, tampak sebuah bangunan kecil yang kini menjadi gudang. Dua bua jembatan yang dibuat melengkung di sisi utara dan selatan menjembatani pengunjung yang ingin ke sana. Menurut Slameto, dulu bangunan tersebut dibuat asri dengan alunan musik keroncong yang dimainkan para musikus tunanetra. Tak hanya itu, para raja dari Kasunanan Surakarta sering berkunjung ke sana pada malam ke-21 pada bulan puasa atau malam Lailatul Qadar untuk bersemedi di Gua Swara yang ada di bawahnya. Yakni sejak masa Paku Buwono X dan tak lagi berlangsung pada masa Paku Buwono XII. Itulah mengapa Sriwedari, konon adalah tempat wisata raja-raja Surakarta sehingga sempat akrab disebut dengan Kebon Raja.
Berdasarkan sejarah, sebagaimana dikemukakan budayawan Surakarta, Kalingga, bahwa bangunan awal di Sriwedari adalah Gedung Kadipolo yang kini menjadi Museum Radya Pustaka yang berada di sebelah timur Taman Segaran, serta Segaran itu sendiri. Tanah Gedung Kadipolo diambil dari tanah sitihinggil, sedangkan air di Taman Segaran dialiri langsung dari mata air di Pengging, Kabupaten Boyolali. Pembangunan Sriwedari sendiri dimulai pada 1 Januari 1901 pada masa pemerintahan Paku Buwono X.
“Pentas wayang orangnya sudah ada sejak 1907. Sedangkan untuk bioskop sudah ada sejak ada gambar sorot bisu (film bisu). Mulai 1927 juga diramaikan maleman Sriwedari dengan semacam pasar malam. Ya, setelah malam 21 puasa itu,” tutur Kalingga.
Ditambahkan oleh Kepala Sie Pelayanan dan Informasi Wisata Dinas Pariwisata Solo, Mufti Raharjo, pembangunan Sriwedari sendiri yang berdiri di atas lahan seluas sekitar 10 hektar itu diilhami adanya taman untuk konservasi alam yang dibangun Belanda di Bogor. Sedangkan nama Sriwedari diambil dari istilah surga atau taman yang indah sekali dalam dunia pewayangan. Sebagaimana pernah dikemukakan Slameto, bahwa nama itu ada dalam kisah pewayangan Sumantri dan Sukasrana.
“Jadi pada masa PB X itu sangat memperhatikan konsep keseimbangan alam. Makanya Sriwedari pun dibangun dengan konsep tersebut. Yakni taman yang dijadikan sebagai hutan kota sekaligus resapan air. Itu bisa dilihat dari Taman Segaran. Dulu, air dari umbul Pengging itu mengalir terus,” tutur Mufti.
Pada 1980-an, Walikota Solo kala itu melakukan revitalisasi. Antara lain, memindahkan kebun binatang ke Taman Jurug. Dan Walikota sekarang, Joko Widodo pun berniat untuk merevitalisasi Sriwedari kembali ke konsep awal, sebagai konservasi alam. Hanya saja, kapan terealisasi, belum ada kepastian. 
foto: pitogoestin
Namun jika ditilik dari bangunan di atas lahan seluas sekitar 10 hektar itu, memang tak hanya Taman Segaran yang menjadi ciri khas Sriwedari. Dimulai adanya stadionnya sebagai ajang pertandingan sepakbola. Bahkan Pekan Olah Raga Nasional (PON) kali pertama di Indonesia pada 1949 digelar di sana. Di sebelah timurnya adalah taman hiburan rakyat (THR). Di sana biasa digelar pentas musik dangdut dengan grup musik yang rata-rata dari kawasan lokal. Kebanyakan adalah kaum muda mudi yang rela berjubel demi bisa bergoyang di sana.
Di tempat itu pula menjadi jujugan utama anak-anak usia bawah lima tahun (balita) hingga sekolah dasar (SD). Pasalnya, aneka permainan seperti komidi putar, bom bom car atau yang biasa mereka sebut mobil senggol, dan sejenisnya ada di sana. Tempat tersebut mulai ramai dikunjungi pada akhir pekan, kala anak-anak libur sekolah.
Di sebelahnya lagi adalah kawasan dimana bangunan-bangunan untuk berkesenian dibangun. Saat datang, pengunjung disambut oleh gapura dengan loket karcis yang terlihat sepi pada hari-hari biasa. Namun sejak malam Minggu hingga Minggu malam, siapa yang ingin masuk harus merogoh kocek sebesar Rp 1.000. Sebuah pendapa untuk aneka pentas seni, seperti teater atau pun wayang kulit berada di sisi tengah, usai lokasi parkir mobil. Di depan pendapa bertengger patung Gathotkaca yang tengah memangku istrinya, Pergiwa dalam lakon wayang “Pergiwa Pergiwati”.
“Patung itu untuk menghormati Pak Rusman dan Bu Darsi. Keduanya adalah pemain lama wayang orang yang sangat disegani yang sering memainkan lakon Gathotkaca dan Pergiwa. Tapi Pak Rusman sudah meninggal dunia,” tutur Welas (52), pedagang kupat tahu yang mangkal di sana sejak 1979.
Nasib patung yang dipoles dengan cat kuning keemasan itu terlihat tak terawat. Sebelah tangan Pergiwa buntung hingga ujung lengan dan sebelah tangan Gathotkaca putus hingga pangkal lengan. Tak jauh beda dengan kondisi pendapa yang catnya terlihat kusam. Pendapa itu sendiri lebih banyak dipergunakan pengunjung untuk beristirahat karena kelelahan, sekedar ngobrol dengan rekan, atau membaca koran.
Sedangkan gedung wayang orangnya itu sendiri terletak di sisi belakangnya. Kondisinya pun tak terlalu bagus. Atap gedung yang terbuat dari papan triplek, sebagian sudah terlihat menganga. Sungguh pun demikian, Gedung Wayang Orang Sriwedari itu merupakan gedung kesenian yang paling aktif digunakan ketimbang bangunan seni lainnya di sana. Tiap malam, mulai pukul 20.00 WIB hingga tengah malam, sebuah pentas wayang orang pasti dipertunjukkan. Bahkan sebuah jadwal pentas dengan lakon yang berbeda telah tersusun dari tanggal satu hingga terakhir dalam satu bulan. Jadwal yang hanya diketik dengan komputer pada selembar kertas putih itu tertempel di kaca meja loket.
“Yang main bagus-bagus, kok. Ya, ketimbang dulu lebih bagus sekarang. Bisa dilihat dari busananya lebih lengkap, tariannya lebih luwes, tata panggungnya juga lumayan. Cuma Rp 3.000,” terang Harmanto (42).
Lelaki nyaris paruh baya itu terlihat duduk-duduk di teras gedung dengan sebuah sepeda ontel di sampingnya. Dia mengaku suka menonton wayang orang di sana, meski harus rela mengayuh sepedanya dari Cemani, Kabupaten Sukoharjo. Di tengah kesendiriannya, dia menikmati suara musik yang terdengar campur bawur dari aneka permainan anak di THR yang ada di sisi baratnya.
“Padahal itu (THR) dulu adalah kebun binatang. Tapi sejak dibangun Taman Jurug, binatang-binatang di situ dipindah ke sana. Masih ingat saya, saat melihat gajah-gajah itu diangkut pakai truk,” akunya sambil tersenyum simpul.
Di sisi utara gedung terdapat area parkir untuk kendaraan roda dua. Pun ditambah bangunan-bangunan berukuran kecil sebagai warung makan. Sayangnya, penempatan bangunan-bangunan itu tak memperhatikan estetika yang baik agar mengesankan. Justru terkesan seadanya.
Jika menginginkan suasana yang sepi, namun tak nyaman, bolehlah berjalan ke arah timur. Di sanalah, bangunan Solo Theatre yang sudah tak lagi memutar film sejak sekitar 1996, masih berdiri. Tak ada sisa-sisa poster-poster film di sana. Siapa pun yang baru kali pertama ke sana, tak menyangka bahwa bangunan dengan dinding depan berupa kaca rayban hitam itu dulunya adalah gedung bioskop. Saat mengintip dari kaca, tampak beberapa meja tak tertata rapi. Tumpukan poster-poster film dibiarkan teronggok di dekat pintu masuk ke studio. Atap langit-langit pun serasa akan jebol karena menganga di sana sini. Dan saat melihat pintu studio yang terbuka, tampak samar-samar beberapa anak tangga yang dilapisi karpet merah menjadi jalan masuk penonton. Selebihnya, gelap.
“Kalau ingin adu nyali ya, di sana (gedung bisokop) itu. Jadi kalau nonton pasar malam, nggak usah ke rumah hantu, ke bioskop itu saja,” gurau Slameto memberi perumpamaan, betapa angkernya gedung itu.
Dia sendiri enggan menjelaskan seperti apa keangkeran yang dimaksud. Dulu, tiap ada film baru, lelaki kurus itu bertugas menginformasikan kepada masyarakat lewat pengeras suara dengan mobil yang membawanya berkeliling. Meski dicap angker, tak demikian bagi beberapa pengemis dan gelandangan di sana. Bahkan mereka memanfaatkan teras bangunan pada sisi barat dan selatan sebagai tempat beristirahat. Lengkap dengan aneka buntalan warna kusam dan kumuh yang bagi mereka tetaplah berguna meski bagi orang umumnya sudah terbuang. (PITO AGUSTIN RUDIANA)

Selasa, 29 April 2008

Klangenan Rekso Pustoko

 Perpustakaan Kuno yang Jarang Dijamah

foto: pitogoestin
LENGANG dan sunyi. Begitulah saat melongok ke ruang perpustakaan Rekso Pustoko yang memanjang di kawasan Kraton Mangkunagaran Kota Solo Jawa Tengah. Untuk menggapainya, haruslah menaiki tangga kayu yang berbentuk setengah lingkaran. Di lantai dua itulah nuansa etnik mendominasi ruangan yang tak begitu terang. Lemari-lemari buku dari kayu berwarna cokelat dan berdebu, beberapa meja dan kursi tempat membaca dari kayu cokelat tua, belum lagi buku-buku yang tertata cukup rapi dengan warna kertas yang rata-rata cokelat pula. Ada kesan kuno, usang, setua usia perpustakaan yang didirikan pada 11 Agustus 1867 pada masa pemerintahan Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Adipati (KGPAA) Mangkunegara IV.
Tak begitu banyak yang tahu bahwa di salah satu ruangan di lantai dua kerajaan tersebut masih terasa denyut perlahan nadi perpustakaan yang tergolong kuno. Hanya ada beberapa gelintir karyawan yang bertugas untuk mengurusi administrasi, alih aksara dari huruf Jawa ke huruf latin, tukang ketik, editor, hingga tukang cetak. Para pengunjungnya pun hanya berkisar 5-8 orang saban harinya, seolah banyak yang enggan menjamahnya. Mahasiswa yang membutuhkan data untuk tugas akhirnya, seniman berbagai aliran untuk pengembangan ilmunya, para peneliti, atau pun masyarakat umum yang sekedar membaca untuk tahu. Itu pun ada kesan tak puas untuk menikmati bacaan buku-buku kuno di sana. Lantaran tak diperbolehkan membawa pulang bukunya, pun waktunya dibatasi dari pukul 09.00 hingga 12.30 WIB.
“Ya, maklum...kami ini tidak digaji dari pemerintah (Pemerintah Kota Solo, red). Cuma dapat uang transport dari pihak kraton,” demikian alasan Kanjeng Raden Nganten Tumenggung Siti Koestini Soemardi, pensiunan guru sekolah dasar yang telah menjabat sebagai Kepala Perpustakaan Rekso Pustoko sejak 1986 saat dijumpai Tempo, Selasa (29/4/2008).
Tak jelas, berapa uang transport yang diterimanya berikut pegawai-pegawainya. Ada rasa enggan dan malu untuk mengatakan. Jawaban itu pula turut menggambarkan kondisi perpustakaan yang kini telah menyimpan sekitar 20.000-an buku dari masa KGPAA Mangkunegara I hingga kini, KGPAA Mangkunegara IX. Buku-buku yang tak hanya uzur dimakan usia, namun juga rusak dimakan rayap itu hanya dirawat dengan sekitar tiga kilogram kapur barus tiap bulannya. Perawatan lebih layak lagi adalah dengan fumigasi.
“Fumigasi pun tidak mesti kapan waktunya. Tergantung dananya. Kalau ada dana ya, setahun sekali. Ya, sekitar tiga juta rupiahlah. Kalau tidak ya, dua tiga tahun sekali,” aku Koestini.
Meski demikian, Koestini sangat bersyukur lantaran ada hari-hari tertentu dimana perpustakaan kuno nan sepi itu rapami dikunjungi. Bukan pada hari-hari libur panjang ketika pelajar libur. Namun justru saat tahun ajaran baru, tepatnya pada masa orientasi sekolah alias opspek. Biasanya, pihak perguruan tinggi di Kota Budaya itu akan mengajak mahasiswanya mengunjungi Rekso Pustoko sebagai ajang perkenalan peninggalan-peninggalan budaya kraton di Solo.
“Ya, pengenalan biar nanti kalau mencari bahan untuk tugas kuliah, bisa langsung ke sini. Lagi pula, anak-anak SMA juga ada yang ke sini. Soalnya, Bahasa Jawa kan sekarang diajarkan di sana,” imbuhnya perempuan renta yang berusia 82 tahun itu.
Jadi, apakah hanya buku-buku berbahasa Jawa saja yang tersimpan di sana? Ternyata tidak. Buku-buku yang dibagi menjadi 20 kelompok berdasar tema besarnya itu terdiri banyak bahasa. Mulai bahasa Jawa, Belanda, Inggris, juga Indonesia. Mulai dari buku peninggalan yang ditulis oleh KGPAA Mangkunegara I yang berjudul “Sejarah Wiwit Nabi Adam Dumugi Ratu-ratu Tanah Jawi lan Sanesipun” yang ditulis pada 1769 Masehi hingga buku terbaru yang dikoleksinya pada 11 Maret 2008 yang berjudul “Barus Seribu Tahun yang Lalu” dari tulisan Claude Guillot dan kawan-kawannya.
Buku-buku dari kalangan Mangkunagaran yang rata-rata beraksara Jawa, oleh pegawai perpustakaan dialihaksarakan menjadi aksara latin, lalu dicetak ulang. Ada pula buku-buku lama yang sudah dicetak dengan aksara Jawa yang masih disimpan. Seperti “Serat-serat Anggitan Ndalem KGPAA Mangkunegara IV” yang merupakan kumpulan tulisan Mangkunegara IV yang dikenal sebagai pujangga dan sastrawan besar sekelas Ronggowarsito itu.
“Kalau tulisan tangan beliau yang berupa aksara Jawa, nggak ada di sini, entah di mana. Di sini hanya aksara Jawa yang sudah dicetak saja,” kata Darweni, pegawai perpustakaan yang sekaligus juru alihaksara di sana.
 Ada juga buku karya Mangkunegara IV yang cukup terkenal yang berjudul “Serat Wedhatama” yang berisi ajaran budiluhur kehidupan masyarakat Jawa. Juga karya KGPAA Mangkunegara VII yang berjudul “Pakem Pedalangan Ringgit Purwo”. Buku yang dicetak dengan aksara Jawa itu terdiri dari 37 jilid dan 37 lakon wayang purwo. Dua raja itulah yang merupakan tokoh-tokoh dibalik keberadaan dan perkembangan Rekso Pustoko itu sendiri. Keduanya penggila sastra. Keduanya pecinta membaca. Pada masa KGPAA Mangkunegara IV lah Rekso Pustoko berdiri, meski saat itu keberadaan buku-buku masih diperuntukkan bagi para punggawa raja. Raja yang punya nama kecil Raden Mas Sudira kelahiran 3 Maret 1811 itu kurang tertarik pada kegiatan adu jago juga memanah. Seni dan sastra menjadi kepiawaiannya, sebut saja karya lainnya adalah “Wulang Reh”. Dan di tangan KGPAA Mangkunegara VII, Rekso Pustoko berkembang. Raja yang memprioritaskan pada pembangunan di bidang pendidikan itu teah mengembangkan Sekolah Desa (sekolah dasar bagi kalangan menengah ke bawah) dari 19 sekolah menjadi 127 sekolah. Begitu pula membangun Sekolah Rakyat (sekolah dasar bagi kaum menengah ke atas) sebanyak 65 sekolah.
“Buku-buku karya raja, yang dikumpulkan raja, maupun tentang Kraton Mangkunagaran ini sekarang ada 2.116 buku. Untuk karya-karya Mangkunegara IV dan VII sebagian ada di sini, sebagian lagi entah di mana. Tapi hanya buku karya Mangkunegara I itu saja yang nggak boleh dibuka dan dibaca umum. Hanya kalangan raja saja,” tutur Darweni.

foto: pitogoestin
Buku berjudul “Sejarah Wiwit Nabi Adam Dumugi Ratu-ratu Tanah Jawi lan Sanesipun” itulah yang dimaksud yang kini dimuseumkan. Panjangnya 19 centimeter dengan tebal 2,5 centimeter dan ditulis dengan aksara Jawa dan aksara Arab. Tak banyak kalangan umum yang tahu isinya, karena adanya larangan untuk membacanya. Hanya saja, berdasar sejarah, KGPAA Mangkunegara I alias Raden Mas Said atau yang berjuluk Pangeran Sambernyawa yang dimakamkan di makam raja-raja di Mangadeg, Karanganyar itu memang memfokuskan agama sebagai arah kebijakan dan pembangunannya.
Jika didasarkan pada katalog, buku-buku lain yang disimpan di sana adalah tentang piwulang, sejarah, sastra, wayang, menak, karawitan, tari, adat, primbon, pariwisata, hukum, pertanian, kesehatan, flora dan fauna, dongeng, warna-warni, juga batik. Bahkan katalog terakhir adalah buku-buku tentang politik.
 “Kalau buku-buku politik memang baru saja, pada masanya Bu Mega (masa pemerintahahan Presiden Megawati Soekarno Putri, Red). Sebab kakaknya Bu Mega (Sukmawati Soekarno Putri, Red) kan pernah menjadi istri dari KGPAA Mangkunegara IX, tapi sekarang sudah cerai,” kata Darweni.
Meskipun para pengunjung yang membaca tanpa dipungut biaya itu – kecuali jika ingin memiliki dengan difoto copy-kan oleh pegawai di sana – dilarang membawa buku-buku yang dibacanya ke luar alias di bawa pulang, diakui Darweni sempat pula ada yang ketlisut.
“Ya, dulu pernah ada yang ketlisut. Jadi ada cucu raja di sini yang pinjam beberapa buku untuk di bawa pulang. Ya, kami nggak mencatat, nggak beranilah, wong cucu raja,” aku Darweni.
Siang itu, pukul 12.30 WIB, Darweni mengingatkan lima pengunjung yang masih asyik membaca dan membolak-balik buku-buku di sana. Meninggalkan ruangan yang tua dimakan usia, meski berusaha memodernkan dengan buku-buku terbitan baru. (PITO AGUSTIN RUDIANA)