Kamis, 27 Desember 2012

Seni Panen Terakhir

Karya Tiga Dimensi Penolak Panen Terakhir

foto: pitogoestin
SAMBADI, 75 tahun terlihat hilir mudik dengan sebilah sabit di tangan kanannya. Lelaki tua yang telah puluhan tahun tinggal di dusun Jeblog, kecamatan Kasihan, kabupaten Bantul itu tengah memantau pengairan beberapa petak sawah yang menjadi tanggung jawabnya. Yang pasti, bukan petak sawah miliknya.
 “Sudah saya jual untuk berobat, untuk bangun rumah. Ya, baru tahun ini saya benar-benar enggak punya sawah,” kata Sambadi saat ditemui Tempo di tepi sawah, Rabu (3/10/2012).
 Ada kerinduan Sambadi akan petak-petak sawahnya yang satu per satu hilang. Dia berharap kelak bisa memilikinya lagi. Meski harapan itu sangat tipis mengingat petak-petak sawah di dusun itu banyak yang berbuah menjadi dinding-dinding beton perumahan. Padahal, Sambadi sejak kelas II Sekolah Dasar sudah biasa membantu ayahnya membajak di sawah. Saat tak sekolah, biasa berangkat ke sawah kala pagi buta dan pulang saat petang. Tengah hari menjadi waktu yang dinanti karena menunggu kiriman makanan dari ibunya sembari duduk di gubuk-gubuk bambu yang ada di tengah sawah. Gubuk bambu itu juga menjadi tempat petani untuk menghalau burung-burung pemakan bulir-bulir padi.
 “Sekarang sudah tidak ada gubuk-gubuk bambu di tengah sawah. Orang malas berlama-lama di sawah,” kata Sambadi.
 Banyak petani masa kini yang datang kala matahari sudah terbit dan segera pulang saat jarum jam menunjuk pukul 11 siang.
foto: pitogoestin
 Kegundahan Sambadi, dan beberapa petani tua beberapa zaman itu ditangkap sejumlah seniman seni rupa tiga dimensi yang tergabung dalam Komunitas Garda Matra yang lahir di dusun itu. Mereka pun memotret kegelisahan petani, masa depan persawahan, dan alam sekitarnya melalui karya-karya tiga dimensi. Mereka mempersiapkan 10 karya tiga dimensi berupa patung dan instalasi dalam waktu satu bulan, termasuk menggagas temanya. Jadilah perhelatan “Panen Terakhir” yang ditampilkan di tengah areah persawahan di dusun Jeblog dan Nitiprayan sedari 27 September hingga penghujung 2012 mendatang.
 “Dengan panen terakhir, kami berharap tak ada panen terakhir. Karena ini memang potret realitas pertanian di pinggiran kota,” kata Budi Barnabas, selaku ketua panitia sekaligus perupa di bengkel seninya yang juga di tengah sawah.
 Budi berharap, karya-karya instalasi yang ditampilkan secara terbuka kepada public itu bisa mengobati kerinduan alam hijau pada masa lalu. Meskipun beberapa karya yang ditampilkan terlihat getir.
 Sebut saja karya Budi sendiri yang diberi judul “Kebo Ketaton”. Karya yang menampilkan seekor kerbau yang berdiri mengangkang dengan kepala tertunduk. Tubuhnya tanpa daging, tinggal tulang kerangka. Binatang pembajak sawah itu dibiarkan sendirian di sebuah petak di tengah sawah di Jeblog.
 “Kerbau itu simbol keputusasaan,” kata Budi.
Putus asa, lantaran kerbau yang berperan sebagai pembajak sawah tergusur keberadaannya oleh mesin-mesin traktor yang lebih kokoh dan kuat. Serasa ada luka luar dalam, demikian Budi menggambarkan binatang perkasanya yang kini tak berdaya dengan modernisasi.
 Keresahan pun melanda Kenyung Suranto yang membuat instalasi berjudul “Kendi Borot”. Laiknya kendi atau bejana penyimpan air yang dalam karya instalasi itu juga terbuat dari tanah liat. Kendi besar, penampung air, dipajang di tengah sawah, namun kosong lantaran berlubang. Bagi Kenyung, kendi diibaratkannya sebagai bumi penyimpan air. Namun kala tanah di atasnya lebih banyak dihuni perumahan dan bangunan-bangunan industry, tak pelak lagi air semakin minim untuk berada di resapan air.
 “Yang terjadi kemudian krisis air kan,” kata Kenyung.
foto: pitogoestin
Karya-karya tiga dimensi itu akan terus bertambah. Sudah ada antrean 10 karya dan ditambah tujuh karya pada Desember nanti. Konsep memajang karya di tengah alam rupanya menjadi daya tarik seniman lainnya untuk tampil serta. Karya-karya lama yang masih nagus akan tetap dipertahankan untuk dipajang. Kemudian karya-karya baru akan melengkapi. Meskipun untuk tampil di panggung persawahan, Budi mesti melakukan pendekatan sosial kepada warga pemilik sawah. Termasuk pemberian uang ganti rugi lantaran petak sawahnya disewa sebagai tempat pajangan.
 “Modelnya gotong royong dan warga tak keberatan. Bahkan inginnya tahun depan ada lagi,” kata Budi. PITO AGUSTIN RUDIANA

Seni mateREALITY

Mengembalikan Kenangan Kayu Anusapati
 
foto: pitogoestin
 Sebuah rel kereta api menempel pada dinding belakang Sangkring Art Space yang tinggi menjulang di Nitiprayan, kabupaten Bantul, Rabu (21/11/2012). Bentuk rel itu melengkung membentuk setengah huruf U dari sisi dinding bawah melengkung ke atas. Keunikannya, meskipun kerangka rel menggunakan besi rel yang tebal, namun bantalan rel menggunakan kayu. Dari struktur kayunya pun terlihat usang. Alur rel itu berhenti pada sebuah kotak kayu pula yang terbuka pintu lorongnya.
 “Itu bantalan kereta lama. Zaman dulu kan, pakai kayu. Untung masih ada yang jual,” kata pematung Anusapati yang menggeber karyanya dalam pameran tunggal di Sangkring Art Space tersebut.
 Anusapati mengembalikan kayu yang semula menjadi bantalan kereta menjadi bantalan kereta kembali. Tak hanya itu. Kayu-kayu tua bekas bantalan kereta itu disulapnya menjadi benda-benda menyerupai atap rumah juga seperti ujung pensil dengan diameter yang luas.
 Anusapati yang terbiasa bermain-main dengan kayu itu pun kembali mengapresiakan benda dari tumbuhan hidup itu dalam karyanya. Hanya saja dalam pameran bertajuk “mateREALITY” yang berlangsung dari 13 November-8 Desember itu, Anusapati ingin menampilkan sesuatu yang berbeda. Lewat karya patung, instalasi, dan lukisan dari usapan arang, Anusapati ingin mengajak publik untuk kembali dekat dengan benda yang disebut dengan kayu itu. Kayu sebagai material, bukan pada bentuk lagi.
 “Karena kayu itu material yang paling akrab dengan manusia sejak zaman dulu,” kata Anusapati saat dihubungi Tempo, Rabu (21/11) lalu.
 
foto: pitogoestin
 Perkembangannya, kayu pun menjadi komoditi massal. Seiring dengan perilaku dan gaya hidup manusia yang kian konsumtif akan kayu. Dan Anusapati ingin kembali mendekatkan manusia pada kayu. Ingin mengajak untuk mengenang masa lalu bagaimana sangat berartinya kayu untuk kehidupan manusia.
Untuk mewujudkan tujuannya, Anusapati mulai menyentil lewat karya-karyanya yang serba berukuran raksasa itu. Seperti karya berjudul “Going back in time” yang berupa potongan kayu dari pohon munggur dengan tinggi 4 meter dan diameter 225 centimeter. Batang pohon munggur itu dibelah menjadi empat bagian. Seolah Anusapati ingin mempertontonkan ujud sebuah kayu seutuhnya sebelum berubah menjadi barang konsumtif manusia.
 “Orang kan, sekarang suka perabot seperti meja yang gedhe-gedhe dari kayu munggur. Padahal itu pohon peneduh,” kata Anusapati.
foto: pitogoestin
   Begitu pun karya raksasa berupa pohon durian sepanjang 15 meter. Pohon yang masih lengkap dengan cabang dan rantingnya itu dibelah dalam posisi berbaring di atas lantai ruang pameran. Di sinilah Anusapati menunjukkan kepiawaiannya membuat karya instalasi. Batang kayu tanpa daun itu dipotong beberapa bagian. Pada bagian pangkal yang mempunyai diameter lebih lebar, Anusapati membelah bagian dalam kayu menjadi balok-balok kayu yang siap untuk bahan bangunan. Uniknya, potongan-potongan itu kemudian disatukannya dengan mengikatnya menggunakan baut panjang dan tali kawat yang kuat yang diikatkan pada langit-langit ruangan.
 “Satu hal, saya enggak menebang pohon untuk karya-karya saya. Tapi itu pohon durian yang sudah mati di sekitar terminal Giwangan. Kalau tidak ya beli kayu di toko bangunan,” kata Anusapati dengan nada serius.
 Bekas mahasiswanya di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Rosyid Mulyadi, kekhasan karya Anusapati adalah ada korelasi antara konsep dengan bahan. Dan Anusapati mengemas karyanya dengan sistematis.
 
“Kalau ada pohon atau bahan kayu enggak waton ngambil,” kata Rosyid yang ditemui di studio pameran itu. PITO AGUSTIN RUDIANA

Seni Ketoprak Kolaborasi

Ada Instalasi dalam Pentas Ketoprak
 
foto: pitogoestin
 TIDAK ada kursi singgasana yang empuk dan berukir. Tak ada pula empat kursi kayu tua yang disusun mengelilingi meja kecil dengan cangkir-cangkir kecil di atasnya. Suasana panggung pementasan ketoprak menjadi tak biasa pada malam lalu, Selasa (11/12/2012) malam. Panggung Taman Budaya Yogyakarta itu justru diisi dengan patung kerbau berukuran raksasa yang ngelesot menjadi latar belakang panggung dan dua patung tikus di depan samping panggung. Kerbau melambangkan rakyat yang mudah dicocok hidungnya dan tikus perlambang korupsi. Juga ada tumpukkan karung-karung goni di atas sebuah kotak yang menyimbolkan daerah pertanian. Tak ketinggalan susunan bambu yang dibuat bertingkat seperti menara sutet dengan asesoris aneka perabotan dapur yang digantung pada setiap sudut bambu.
 Itu baru kolaborasi dua bentuk seni: ketoprak dan seni instalasi dari Wayang MILEHNIUMWAE. Saat pementasan ketoprak berlangsung, barulah ketahuan ada yang berbeda dalam tata musik. Tiap kali gamelan akan ditabuh, seorang wiyaga akan memulai dengan aba-aba berupa syair lagu dari mulutnya. Peran kelompok seni suara Acapella Mataraman bisa dirasakan kehadirannya di sana.
 “Ini eksperimen kami. Bagaimana ketoprak berkolaborasi dengan bentuk kesenian lain, biar tidak stagnan,” kata penulis naskah pementasan ketoprak kolaboratif yang mengusung lakon “Lebak 1848”, Bondan Nusantara saat ditemui usai pementasan.
 Lebak 1848 sendiri mengambil latar belakang zaman penjajahan colonial Belanda di Lebak, Banten pada 1848. Rakyat tak hanya ditindas oleh penjajah itu sendiri, melainkan juga perilaku penguasa di sana yang korup. Para bupati pun sudah ditulari virus korup tersebut. Rakyat diminta menyerahkan ternak-ternak mereka yang berupa kerbau, sapi, kambing, hingga bebek dan ayam demi bisa menjamu tamu bupati Lebak yang sesama bupati pula.
 Ada Max Havelaar yang menjadi asisten residen yang baru. Dia mempunyai janji untuk memberantas korupsi. Namun tetap tak ada perbaikan bagi rakyat. Bahkan rakyat yang melakukan perlawanan di bawah kepemimpinan tokoh masyarakat bernama Karya pun harus mati meregang nyawa semua.
 Jika melihat sinopsis cerita, kening dibuat berkerut lantaran terlihat cerita yang serius. Namun saat menonton jalannya adegan demi adegan, penonton justru diajak menguras air mata karena kebanyakan tertawa. Boleh dibilang, 80 persen cerita berisi komedi. Dimulai dari adegan lawak dua bocah desa pada pembukaan pementasan. Adegan lawak yang selalu ada dalam setiap pementasan ketoprak maupun wayang. Dari situlah, presepsi penonton tentang lakon yang serius dibuat luruh. Lantaran adegan dialog bupati Lebak dengan istri mudanya juga tak luput dari komedi bergaya satire. Termasuk rayuan maut ki Demang terhadap Adinda, kekasih Saijah pun dibuat konyol. Begitupun dialog antara Max Havelaar sebagai asisten residen dengan Multatuli sebagai penulis bukunya. Keduanya saling sindir soal efektifitas pemberantasan korupsi yang dilakukan: menjadi asisten residen dan penulis. Namun sama-sama tak berdampak alias korupsi tetap merajalela.
 “Jas bukak iket blangkon. Sama juga sami mawon,” kata Max menyindir.
 
foto: pitogoestin
 Hanya 20 persen adegan yang serius dan berujung tragedi, yakni saat perlawanan Karya dan masyarakat melawan kumpeni Belanda. Semangat rakyat yang berkobar ditandai dengan instalasi berupa gunungan yang dibawa, diacungkan, dikibaskan warga. Gunungan sendiri merupakan piranti khas dalam pentas wayang kulit. Sayangnya, hanya separuh kursi yang terisi malam itu oleh penonton.
 Yang menarik, tak ada tokoh sentral laiknya pementasan ketoprak umumnya. Semuanya menjadi tokoh, baik bupati Lebak, ki Demang, Saijah dan Adinda, Max Havelaar dan Multatuli, juga adegan rakyat yang melawan.
 “Memang kami tiadakan pemeran utama, karena tokoh itu ya cerita tentang korupsi itu sendiri,” kata Bondan.
 Waktu persiapan yang hanya dua bulan dinilai Bondan tak cukup. Semestinya butuh waktu antara 4-5 bulan. Meski begitu, Kepala TBY Dyan Anggraini Rais menilai kolaborasi tersebut menjadi gebrakan untuk membangkitkan kembali kesenian ketoprak.
 “Ini terobosan karena membuat ketoprak tidak normatif. Jadi jangan takut lepas dari pakem, karena ini justru memperkaya berkesenian,” kata Dian. PITO AGUSTIN RUDIANA

Selasa, 26 Oktober 2010

Potret Erupsi Merapi I-2010

Yang Terluka, Berkorban, dan Tiada...

Korban awan panas/pitogoestin 26102010

Selasa, 26 Oktober 2010 petang. Episode pertama Merapi kembali erupsi. Adzan Maghrib terakhir didengarkan juru kunci Merapi, Mbah Maridjan. Usai itu, awan panas bergulung lima kilometer hingga Kinahrejo, kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman dan sekitarnya.



Korban awan panas/pitogoestin 26102010

Raungan sirine ambulans seolah tiada henti sepanjang Jalan Kaliurang hingga Rumah Sakit Umum Pusat Sardjito. Silih berganti mengantarkan pasien korban erupsi yang mengalami luka bakar. Mereka  berhasil ditemukan beberapa jam usai awan panas mengamuk. Mayoritas dari Kinahrejo.


Jenazah pertama/pitogoestin 26102010





Korban selamat langsung dilarikan ke Intalasi Gawat Darurat. Korban meninggal dunia dibawa ke ruang forensik. 







Jenazah Yuniawan/pitogoestin 26102010


Termasuk sebuah kantong mayat yang tiba tepat tengah malam. Ada nama Yuniawan di sana. Yuniawan Wahyu Nugroho, wartawan Vivanews,com yang ditemukan meninggal dunia di kediaman sang Juru Kunci. PITO AGUSTIN RUDIANA

Selasa, 01 Juni 2010

Potret Bunker Kaliadem


Persembunyian yang Kian Tersembunyi...




Bunker Kaliadem/pitogoestin 01062010

RABU, 14 Juni 2006 pagi. Bunker Kaliadem itu menjadi persinggahan terakhir bagi Warjono dan Suharwanto. Bunker berdinding tebal dan kokoh itu tak mampu melindungi dua relawan itu dari panas muntahan material dan awan panas dari perut Merapi.

Pintu masuk bunker/pitogoestin 01062010





Mayat Warjono tergeletak di dekat pintu masuk bunker yang saat itu tak sempat ditutup rapat. Mayat Suharwanto ditemukan di dalam bak air di salah satu bilik bunker.
Kamar mandi bunker/pitogoestin 01062010






Bunker, si saksi bisu itu sempat dibuka kembali untuk tempat wisata. Namun kini lenyap ditelan perut bumi. Usai Merapi meluapkan kembali isi perutnya, Selasa, 26 Oktober 2010, sore. Hingga kini masih dibiarkan terkubur menjadi harta karun di lereng Merapi.



Langit-langit bunker/pitogoestin 01062010


Foto ini diambil saat Merapi kembali menunjukkan tanda-tanda erupsi kembali pada 2010. Aparat tengah melakukan pengecekan kesiapan kondisi bunker, Selasa 1 Juni 2010. PITO AGUSTIN RUDIANA


Rabu, 26 Agustus 2009

Klangenan Museum Batik

Batik-batik Kuno Dalam Gelap

foto: pitogoestin
RUANGAN yang cukup luas itu terihat sempit. Lantaran suasananya yang gelap tanpa ada lampu penerangan sedikitpun. Jendela-jendela kayu yang ada di dalam ruangan itu pun ditutup rapat, seolah sengaja untuk menghalau sinar apapun yang masuk ke dalamnya. Hanya seberkas sinar matahari yang menerobos masuk melalui pintu utama Museum Batik Yogyakarta yang berlapis kaca. Sementara itu, kain-kain batik aneka corak yang jumlahnya sekitar 500-an lembar itu seolah dibiarkan berdiam di sana dalam gelap dan sepi. 
“Ini adalah salah satu upaya menjaga agar kain-kain batik itu tahan lama,” kata Prayoga, kurator batik yang sehari-hari bekerja di museum batik itu, 26 Agustus 2009.
  Menurut Prayoga, faktor suhu dan cahaya sangat berpengaruh dalam perawatan batik. Tidak boleh terkena cahaya langsung dan dijauhkan dari kelembapan adalah syarat utama agar batik awet dan warnanya tak lekas pudar. Cara menyimpannya pun harus hati-hati. Kain-kain batik itu dilipat dengan lebar sekitar setengah meter, kemudian dihamparkan pada selembar papan, lalu dibungkus dengan plastik tebal transparan. Setiap tiga bulan sekali, kain-kain yang dipajang dalam posisi berdiri itu diberi akar wangi yang diletakkan di sela-sela kain agar kain terhindar dari aneka binatang perusak dan tetap wangi.
  Maklumlah, kain-kain batik yang disimpan di sana bukanlah kain-kain batik sembarang batik. Kain-kain batik yang disimpan adalah yang mempunyai usia tua, sehingga corak-corak batiknya pun klasik. Tertua adalah batik pada zaman kerajaan Jawa-Hindu yang dibuat pada 1212. Mayoritas adalah batik-batik tulis Jawa yang asalnya beragam, yakni meliputi kawasan di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagian Jawa Barat, Jawa Timur, dan Madura.
  Secara garis besar, jenis batik yang disimpan di sana terbagi menjadi dua jenis, yakni batik keratonan, seperti batik Solo dan Yogyakarta serta batik pesisiran yang meliputi batik Cirebon, Pekalongan, hingga Madura.
  Perbedaan jenis keduanya terletak pada warnanya. Warna pada batik keratonan cenderung didominasi cokelat sogan. Lantaran ada empat warna dasar pada jenis batik yang murni dibuat dengan menggunakan alat berupa canting itu, yakni warna biru, putih, hitam, dan sogan. Perpaduan warna-warna itu yang kemudian menjadi ciri khas warna batik keratonan.
  Sebut saja, sarung panjang Soga Jawa yang bercorak boketan adu jago berdasar polos yang berwarna soga jawa, hitam, dan putih. Batik yang dibuat dengan teknik batik tulis sedang itu berasal dari Yogyakarta yang dibuat Nyonya Lie Djing Kiem antara 1920-1930. Ada pula kain panjang Soga Jawa asal Klaten, Jawa Tengah pada 1950-1960. Kain batik berpola loreng besar curigo dan pari sewuri itu dibuat dengan teknik batik tulis sedang. Begitu pun dengan kain panjang Soga Kuning asal Surakarta pada 1960-1970 yang dibuat dengan teknik batik tulis sedang. Batik tersebut mengambil corak ceplok kembang terompet berlatar belakang mukti luhur berseling.
  Sedangkan warna batik pesisir cerah dan dekoratif. Seperti ada warna merah, hijau, dan sebagainya.
  “Sehingga tidak hanya pakai canting, tapi juga colet (semacam kuas),” kata Prayoga.
  Seperti sarung Isen-isen Antik yang bercorak boketan isen-isen dengan dasar galar berseling halus dan terlihat unik. Batik berwarna kombinasi biru tom, kuning kayu, dan hijau itu dibuat dengan teknik batik tulis halus cecek jarum yang berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah pada 1880-1890.
  “Kelangkaannya ditandai dengan warna batik yang biru tua, cokelat, hitam, atau putih,” kata Prayoga yang menceritakan cara membedakan batik-batik kuno dan modern.
  Begitu pula dengan coraknya yang terlihat menggambarkan sesuatu benda yang imajinatif. Semisal, lukisan burung dalam kain batik kuno tidak bisa ditebak secara pasti jenis burung yang dimaksud, lantaran khayalan. Bahkan pada corak batik buatan zaman Jawa-Hindu berbeda dengan pada zaman Islam. Pada zaman Jawa-Hindu, gambar burung pada batik terlihat utuh. Namun pada zaman Islam hanya terdiri potongan-potongan dari bagian-bagian struktur tubuh burung.
  “Karena ada keyakinan, bahwa agama Islam melarang menggambar makhluk hidup,” kata Prayoga.
  Sedangkan kain-kain batik modern terlihat dinamis, baik warnanya yang cerah maupun corak-coraknya yang merupakan hasil modifikasi motif-motif batik kuno. Tak heran, jika perburuan kain-kain batik tua dan langka itu cukup sulit. Adalah Raden Nganten (RNgt) Dewi Sukaningsih (79), pemilik museum yang disebutnya museum batik tertua di Indonesia itu yang resmi berdiri pada 1979. Dewi menuturkan, awalnya koleksi museum merupakan batik-batik peninggalan neneknya Sie Kee Hok dan ibunya Lusyana Ong. Keduanya biasa membeli kain-kain batik kuno di tempat-tempat yang disinggahinya. Saat itu, jumlahnya hanya sekitar 30-40 lembar. Lantaran wasiat ibunya untuk merawat dan melestarikan batik-batik kuno itu, maka Dewi mendirikan museum tersebut. 
  Untuk menambah jumlah koleksi, Dewi mengumpulkannya dari batik milik saudara-saudaranya. Ada yang boleh diminta, ada pula yang harus membeli. Begitu pun dengan orang-orang yang sengaja datang kepada Dewi untuk menjual kain-kain batik peninggalan leluhurnya. Saat itu, Dewi membelinya seharga Rp 100.000 hingga Rp Rp 300.000.
  “Syaratnya harus langka, kalau nggak ya, nggak saya koleksi,” kata Dewi.
  Lantaran spesifikasi jenis batik langka, kuno, dan klasik saja yang disimpannya, akhirnya mengundang banyak kolektor batik datang untuk membelinya. Namun Dewi tegas menolak.
  “Apa artinya museum, kalau yang tua hilang,” kata Dewi.
  Tak heran, Dewi yang juga mahir membatik dan mendirikan tempat kursus membatik itu tidak menyimpan aneka batik modern. Begitu pun batik-batik buatannya. Alasannya, karena usia batik belumlah tua. (PITO AGUSTIN RUDIANA)
 

Baju Brokrat Bu Tien Terlihat Transparan

TERNYATA tak hanya mengoleksi batik, Raden Nganten Dewi Sukaningsih juga mengoleksi sekitar 50-an sulaman yang dimuseumkan satu tempat di museum batiknya. Sulaman-sulaman buatan tangannya sendiri itu pun meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MuRI) lantaran satu-satunya museum sulaman yang ada di Indonesia. Dewi memulai menyulam saat harus menunggui suaminya, Hadi Nugroho yang tergolek karena stroke pada 1980.
Uniknya, motif sulamannya bukan berdasarkan dari gambar-gambar motif sulaman yang beredar di pasaran. Melainkan diambilnya dari aneka lukisan maupun foto yang dimilikinya. Sehingga Dewi akan membuat sketsa pada kain sulamnya sebelum menyulam.
“Kalau ada yang tanya, motif-motif sulaman saya apa, ya saya jawab motif acak, karena memang acak-acakan,” kata Dewi.
foto: pitogoestin
Semisal, dia membuat sulaman dari lukisan Kebangkitan Yesus Kristus yang diselesaikannya selama 1,5 tahun. Ataupun sulaman dari lukisan penyaliban Yesus Kristus yang dirampungkan selama 3,5 tahun karena cukup panjang.
  Kebanyakan adalah sulaman yang diambilnya dari foto-foto tokoh maupun keluarganya. Antara lain foto Presiden RI  Soekarno dan Soeharto, Presiden AS Ronald Reagen, Presiden Philipina Corazon Aquino, juga foto Siti Hartinah Soeharto dan Hamengku Buwono IX. Hasil sulamannya terlihat hidup seperti gambar aslinya. Seperti sulaman sosok Bu Tien yang terlihat menggunakan baju brokat dan terlihat transparan hingga kulit punggung lengannya kelihatan. Atau sulaman sosok Aquino yang bisa menunjukkan kebeningan kacamata yang dipakainya. Juga foto sosok HB IX yang diperoleh Dewi seminggu sebelum HB IX wafat yang menunjukkan kerut-kerut kulit wajahnya. Mengapa sulamannya terlihat hidup?
  “Karena dibuat dengan perasaan, mood-nya pas baik,” kata Dewi yang memajang kerajinan tangannya itu pada pigura berlapis kaca di dinding museumnya. (PITO AGUSTIN RUDIANA)

Rabu, 19 Agustus 2009

Seni The Power of Dream

Instalasi Impian Sang Perupa

foto: pitogoestin
 Saat mata lelah ingin terkatup, badan penat ingin rebah terbaring, kehadiran sebuah bantal bisa menjadi obat meski sekejap. Pun tak peduli saat melihat bantal warna merah muda yang seolah siap mengantar si empunya untuk bermimpi dengan romantis itu ternyata tergeletak di atas sebuah jebakan tikus berbentuk segi empat. Seolah ada pesan yang tersirat. Tergiur untuk berbaring, silahkan saja. Namun jangan menyesal jika saat terbangun tak bisa bermimpi lagi. “Sebuah Umpan”, demikian karya tiga dimensi dari fiberglass yang diolah Purwanto. Pemuda kelahiran Gunungkidul 28 tahun lalu itu pun mengakui, bahwa rintang hidup tak selamanya terlihat menyakitkan, karena bisa menjadi godaan yang terlihat nikmat dan nyaman.

“Saya sebenarnya dihadapkan pada sesuatu yang menjanjikan kemewahan mimpi, tapi sebenarnya bukan target yang ingin saya capai,” kata Purwanto.
 Keresahan akan alam mimpi yang banyak memberikan janji juga dirasakan Achmad Basuki. Lulusan Universitas Negeri Semarang Jurusan Seni Rupa itu mencurahkan isi hatinya soal impiannya untuk segera berkeluarga. Maklumlah, usianya sudah 34 tahun. Sebuah media instalasi seperti robot -- lantaran mempunyai sepasang tangan dan kaki dari stainless– dihadirkannya untuk mewakili impian yang dianggap cukup menghantuinya. Lihatlah tubuh robot yang berbentuk seperti hati dari resin dan berwarna merah. Di dalamnya, bersekat kaca acrilyc, sosok perempuan berkerudung terlihat duduk sembari memandang keluar.

 “Saya ingin mempunyai istri yang solekhah, itu sebuah awalan,” kata Achmad Basuki dalam karyanya “Berkeluarga”.

 Kelengkapan sebuah keluarga yang diimpikannya pun kian lengkap jika pernak-pernik di atas kedua telapak tangan si robot terpenuhi. Di atas telapak tangan kirinya berdiri miniatu rumah, di tangan kanannya sebuah boneka berbentuk anak laki-laki tengah memandang ke atas.

foto: pitogoestin
Namun, “The Power of Dream”, sebagaimana tema besar dari pameran kompetisi yang disajikan dalam Tujuh Bintang Art Award 2009 di Jogja National Museum pada 15-30 Agustus 2009 itu, diakui Roni Ammer sebagai lika-liku hidup laiknya permainan ular tangga dengan manusia sebagai bidaknya. Ada kekuatan mimpi yang menjadikan seseorang berhasil sehingga bisa mendaki tangga kehidupan untuk hidup senang dan penuh kenikmatan. Seperti tabiat orang yang berhemat menggunakan air, maka hidupnya akan meningkat menjadi seorang konglomerat. Pun laki-laki yang rajin berolah raga, kelak tubuhnya akan terbentuk bagus dan menjadi laki-lai metroseksual. Ada pula kekuatan mimpi yang justru meninabobokkannya untuk terpeleset jatuh dalam pusaran kepahitan hidup yang gelap dan menyakitkan. Seperti saat manusia mengkonsumsi narkoba, maka kematian yang akan menjemputnya. Ataupun ketika seseorang menjadi tikus koruptor, maka hukuman pengadilanlah urusannya. Simaklah karya Roni Ammer, seniman muda dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang berjudul “The Winner” yang menggambarkan papan permainan ular tangga. Jika bisa memenangkan permainan, maka seseorang itulah yang layak disebut The Winner.

 Namun dari 59 karya yang dipamerkan, hanya satu impian seniman yang menggelitik ketertarikan alumnus mahasiswa Seni Pertunjukkan ISI Yogyakarta, Jamiatut Tarwiyah. Karya perpaduan dua dimensi dan tiga dimensi yang dibuat dari bahan acrylic dan rotan di atas kanvas berdiameter 150 centimeter, “Menyudut” karya Made Wiguna Valasara, seniman asal Sukawati, Bali, dinilainya sebagai konsistensi sang seniman dalam mengeksplorasi gagasannya tentang lingkungan.

 “Made Wiguna konsisten membuat karya dengan menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan,” kata Jamiatut.

 Karya itu menggambarkan bola bumi yang penuh sesak oleh kesemrawutan yang digambarkan dengan bilah-bilah rotan yang saling tumpuk, saling tindih tak beraturan. Bilah-bilah rotan itu bisa saja bangunan hunian, bisa pula manusia yang tak henti berproduksi. Keunikan lukisan itu mulai terlihat dari jauh seolah tiga dimensi. Namun saat didekati, hanya ujung-ujung atas dan bawah dari bola dunia itu yang benar-benar nyata tiga dimensi karena bilah-bilah rotan itu benar-benar menyembul. Tapi pada bagian tubuh bumi hanyalah lukisan kanvas semata.

Salah satu dari lima kurator pameran kompetisi itu, Netok Sawiji Rusnoto Susanto dari Universitas Negeri Jakarta, menilai bahwa para perupa cenderung mempresentasikan gagasannya dengan bahasa visual bercitra realistik, hanya sebagian kecil saja yang memposisikan pada langgam non representasi obyek.

 “Tapi kompetisi ini telah mampu mengindikasikan peta perkembangan seni rupa kontemporer hari ini,” kata Netok.

 Sayangnya, event pameran 59 karya dua dimensi dan tiga dimensi yang lolos dari tahap seleksi awal sekitar 1.500-an karya itu terlihat sepi pengunjung. Kehadiran Tempo, Rabu (19/8/2009) seolah pelengkap penderita dari cerita-cerita mimpi karya-karya seni yang terpajang rapi, tapi lengang tak terkunjungi. Hanya bunyi mesin-mesin kipas angin yang berdengung di pojok-pojok pintu masuk. (PITO AGUSTIN RUDIANA)