Jumat, 10 Juli 2009

Sosoh Alat Tenun Bukan Mesin

Awalnya, Cukup Merogoh Rp 15 Ribu Satu Set 
foto: pitogoestin

TANGAN keriput Tumiyem memasukkan pilahan batang enceng gondok di sela-sela benang tenun warna hijau tua. Bersamaan dengan itu, kedua kakinya menginjak semacam pedal hingga celah di antara dua barisan benang itu membuka. Dengan tangan keriputnya pula, perempuan tua usia 60 tahun itu menarik batang loket hingga batang-batang lidi itu merapat pada barisan benang. 

Thak, thek, thok. Thak, thek, thok.... 

Begitulah terus-menerus Tumiyem mengulangi aktivitasnya dengan mengandalkan gerak tangan dan kakinya. Lantaran semua bagian alat tenun yang dipergunakannya dari kayu. Tak bermesin hingga tak cukup memencet tombol listrik dengan jari untuk menjalankan mesin tenun. Alat tenun dari kayu yang lebih dikenal dengan sebutan alat tenun bukan mesin (ATBM) itu tetap awet sejak 1950-an yang dipergunakan para pengrajin kain tenun di Dusun Gamplong, Desa Sumberrahayu, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman.

 “Wah, lama sekali, sampai anak-anak saya habis (sudah mandiri) semua,” kata Tumiyem menuturkan lamanya waktu dia bekerja di sana, 10 Juli 2009.

 Tumiyem dan teman-temannya yang rata-rata berusia lebih dari paruh baya itu akan berhenti saat makan siang tiba. Atau pun ketika kain tenunannya selesai dibuat. Untuk menghasilkan kain tenun dengan panjang 10 meter, Tumiyem membutuhkan waktu satu setengah hari. Sedangkan waktu kerjanya dari pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB atau 17.00 WIB. Waktu pembuatan kain tenun akan terhambat kala benang tenunnya terputus.

 “Itu kendalanya. Tapi bisa diatasi tanpa harus kursus khusus,” kata Tumiyem yang mengaku hanya belajar secara otodidak dengan melihat dan mencoba untuk mengoperasikan ATBM.


foto: pitogoestin
 Cukup uzurnya usia ATBM, tak heran jika alat tenun dari kayu yang berada di ruang seluas sekitar 10 x 7 meter di rumah Sumiyati, pemilik usaha tenun rumahan “Nopi Craft” itu terlihat usang. Debu dan jaring laba-laba banyak menghiasi bagian atas ATBM yang jarang dipakai. Bagian ATBM yang sering dipergunakan pun telah banyak ditambahi dengan kain usang yang diikat sedemikian rupa dari bagian satu ke bagian lain untuk menggerakkan pedal naik dan turun. Sebelumnya, alat penggerak pun berupa kayu kecil yang berfungsi sebagai tuas.

 “Semuanya memang dari kayu, kayu jati,” kata Sumiyati.

 Lantaran dari kayu pula, tak ada toko yang menjual onderdil jika ATBM rusak.

 “Cukup memanggil tukang kayu,” kata Sumiyati.

 Usaha tenun dengan ATBM di Dusun Gamplong merupakan usaha turun-temurun yang berlangsung di rumah-rumah penduduk. Seperti Sumiyati yang meneruskan usaha orangtuanya semenjak 1975 dengan ATBM yang telah ada sejak 1950. Ataupun Walludin yang melanjutkan usaha ayahnya sejak 2001. Para pengusaha kain tenun di Gamplong yang kini berjumlah 24 orang membeli ATBM dari Dusun Ceper, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah yang semula juga dikenal menggeluti usaha pembuatan kain tenun. Menurut Walludin, lantaran usaha di sana mulai surut, maka banyak ATBM yang dijual. Warga Gamplong yang termasuk pembelinya.

 “Mungkin karena orang Yogyakarta terkenal suka membuat aneka kerajinan,” kata Walludin mengemukakan alasan membeli ATBM dari Klaten.

 Harga ATBM saat itu relatif murah. Pada 1975, harganya hanya Rp 15.000 tiap satu setnya. Sedangkan pada 2001, harganya sekitar Rp 400.000. Kini, harga ATBM bisa mencapai Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta. Untuk mengangkutnya saja tak perlu menyewa mobil bak terbuka. Cukup diurai komponennya, lalu diangkut dengan sepeda motor, barulah dirakit kembali ketika sampai di tempat tujuan. Kesetiaan pengusaha tenun Gamplong menggunakan alat tenun dari kayu cukup teruji. Bahkan hingga kini, tak ada satu pun yang membuat kain tenun dengan menggunakan mesin.

 “Saya malah belum tahu, membuat tenunan dengan mesin seperti apa,” kata Walludin.

 Berbeda dengan Sumiyati yang menilai pembuatan kain tenun dengan mesin justru menghilangkan ciri khas kain tenun itu sendiri. Meski pun penggunaan mesin mempercepat proses produksi kain tenun. Kain tenun hasil olahan mesin terlihat rapat, sehingga tak jauh beda dengan kain-kain biasa pada umumnya. Selain itu, harga alat bermesin itu pun tentunya lebih mahal.

 “Kain tenun hasil manual terlihat rongganya. Itu justru ciri khas kain tenun,” kata Sumiyati.

 Lantaran digerakkan secara manual pula, lebih banyak pekerja pembuat kain tenun dengan ATBM rata-rata perempuan dan berusia lanjut. Menurut Walludin, karena pembuatan kain tenun tersebut membutuhkan kesabaran dan keuletan. Seperti memasukkan bilah-bilah asesoris kain tenun satu per satu di antara benang-benang pintalan. Asesoris yang bisa berupa potongan batang enceng gondok, batang lidi, akar wangi, daun pandan, atau pun mendong itulah yang membuat kain tenun terlihat bervariasi motifnya. Ada yang bergaris-garis, kotak-kotak, atau membuat motif bunga.

 “Yang muda cenderung nggak sabaran, makanya banyak yang memilih kerja lain,” kata Walludin. (PITO AGUSTIN RUDIANA)

 

 
Dari Benang Pintal hingga Eceng Gondok
 

Hanya berbekal alat tenun dari kayu yang digerakkan secara manual, para pengusaha kain tenun dan pekerjanya yang menjalankan usaha turun-temurun di Dusun Gamplong, Desa Sumberrahayu, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman itu dapat menyambung hidupnya. Bermula dari pembuatan stagen alias kain panjang untuk merampingkan perut yang merupakan produk awal kain tenun Gamplong. Hingga kini beralih penghasil kain tenun untuk bahan kerajinan tangan seperti tas, alas piring, alas meja, maupun sampul kulit kotak pensil, boks buku, dan sejenisnya.

 “Beralih ke kerajinan sejak krisis 1997,” kata Sumiyati maupun Walludin.


foto: pitogoestin
Alasannya, harga benang pintal yang didatangkan dari Semarang itu semakin mahal. Kenaikannya hingga 300 persen. Satu pak benang yang semula seharga Rp 60.000 meningkat menjadi Rp 180.000. Padahal, satu bal terdiri dari 40-an pak benang. Benag-benag pintalan itu dijemur di bawah terik panas matahari terlebih dahulu sebelum digunakan. Bisa pula diberi pewarna sesuai keinginan. Dengan beralih ke produk kerajinan, maka benang pintal bukanlah satu-satunya bahan baku tenun. Melainkan bisa dikombinasikan dengan enceng gondok, akar wangi, mendong, daun pandan, juga lidi. Para pengusaha tenun itu menjual kepada pengrajin yang juga berasal dari Yogyakarta dalam bentuk lembaran seharga Rp 10.000 – Rp 70.000. (PITO AGUSTIN RUDIANA)

Jumat, 12 Juni 2009

Kuliner Lapis Legit


Harum Legitnya Asap Tungku


foto: pitogoestin
AROMA harum tercium datang dan pergi di antara laju kendaraan bermotor yang lalu lalang di jalan lingkar barat wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Pasalnya, di tepi jalan jalur lingkar barat, tepatnya di sisi utara dan selatan jembatan yang di bawahnya dilalui rel kereta api, berjejer toko-toko kue lapis legit sekaligus lokasi pembuatannya. Ditambah lagi beberapa toko kue sejenis yang dijumpai di perkampungan di bawahnya. Dari sanalah, bau harum khas kue yang baru keluar dari tempat pemanggangan menggoda selera pengguna jalan untuk mampir dan mencicipinya. Tak heran, Dusun Kaliabu, Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman merupakan sentra home indutri kue lapis legit di DIY.

“Kami selalu memanggangnya dengan arang, bukan di atas kompor gas,” kata Bambang Kriswanto (44), salah satu pemilik toko kue lapis legit “Pak Joyo Roti” saat dijumpai Tempo, Jumat (12/6/2009).

 Pemanggangan kue lapis legit dengan menggunakan arang merupakan ciri khas tersendiri yang dilakukan para pengusaha kue lapis legit di Kaliabu. Itu sudah dilakukan secara turun-temurun semenjak Mardi Suwarno, pendiri dan cikal bakal usaha kue lapis legit di Kaliabu masih hidup. Tak heran, program konversi minyak tanah menjadi gas dari pemerintah tak menyentuh para pengusaha kue lapis legit itu.

 “Kita nggak bisa pakai gas, aromanya akan lain. Kata pelanggan sih, serasa bau gas,” kata Bambang yang merupakan anak sulung Mardi Suwarno sekaligus penerus usaha tersebut menirukan ucapan pelanggannya.

 Modernisasi peralatan, seperti kompor gas, kompor listrik, maupun oven alias pemanggang roti yang dilengkapi dengan pengatur temperatur tak menggoyahkan keteguhan hati pengusaha lapis legit di sana untuk pindah ke lain hati. Pemanggang roti dari lembaran alumunium anti karat berbentuk kotak segi empat buatan sendiri pun masih diopeni. Ukurannya cukup besar, sekitar 1 meter x 0,5 meter. Bentuknya unik. Kotak panjang itu terdiri satu pintu. Sebanyak dua nampan besar yang masing-masing memuat enam kotak loyang berisi adonan lepis legit itu dimasukkan ke dalam pemanggangan. Sementara itu, di bagian atas pemanggangan ada cekungan berbentuk kotak pula sebagai tempat meletakkan arang-arang yang berubah warna menjadi putih, namun menyengat karena penuh bara api. Paling tidak, sebanyak 8 kilogram arang dibutuhkan setiap harinya. Dari sanalah, perapian dibuat. Dari sana pula, penyebab adonan lapis legit matang selama 30 menit kemudian.

 
foto: pitogoestin
Seperti yang dilakukan salah satu pekerja di tempat usaha milik Bambang. Loyang-loyang kecil berukuran sekitar 20 centimeter x 20 centimeter itu diisinya dengan adonan setebal sekitar satu centimeter. Lalu dimasukkan ke dalam pemanggangan. Satu menit kemudian, loyang-loyang itu dikeluarkan. Warna adonan yang semula putih dan lembek telah berubah menjadi cokelat dan padat. Dilapisinya lagi adonan setengah matang itu dengan adonan lagi, lalu dimasukkan kembali ke dalam oven tradiosional itu. Begitulah seterusnya, hingga adonan menjadi kue matang yang berbentuk lapisan-lapisan putih dan cokelat. 

Kesederhanaan tak hanya dijumpai pada alat pemanggang maupun proses pemanggangannya. Pun adonan diolah secara manual, tanpa menggunakan mixer. Adonannya pun sederhana, seperti adonan kue-kue pada umunya. Untuk mendapatkan 12 kotak kue membutuhkan 12 ons tepung, 1 kaleng susu, 2 kilogram margarin, 2 kilogram gula pasir, 5 kilogram telur ayam, serta setengah butter cream. 

“Yang bikin rasanya legit itu, ya bumbunya,” kata Bambang.

Bumbu yang dicampur dalam adonan kue itu berupa cengkeh, kapulaga, juga kayu manis. Tak ada zat pengawet yang dicampurkan dalam kue adonanya. Tak heran pula, jika kue lapis legit itu hanya tahan selama tiga hari.

“Dulu pernah dicoba pakai pengembang kue, tapi hasilnya tak memuaskan, meski tahan lama,” kenang Bambang.

 Dengan alasan tanpa pengawet itu pula, usaha industri lapis legit itu hanya dipasarkan di rumah si pengusaha atau di toko yang didirikannya. Tak ada yang mencoba memasarkannya ke luar kota maupun dititipkan ke toko-toko lain.

 Di sisi lain, Bambang pun tak mematok resep andalannya sebagai harga mati. Pelanggan yang menginginkan memakai pengembang roti pun dilayani. Jadilah kue lapis legit produksinya dijual menjadi tiga macam rasa mulai ukuran kecil, sedang, dan besar. Untuk adonan biasa mulai harga Rp 14.000 per kotak. Disusul adonan spesial lantaran menggunakan jumlah margarin lebih banyak seharga Rp 19.000. Kemudian untuk adonan istimewa adalah yang menggunakan rum butter dengan harga Rp 56.000. Khusus kue lapis legit rasa spesial dan istimewa harus dipesan terlebih dahulu.

 “Kalau hari biasa ya, cukup dua tiga kali olahan. Kalau liburan atau lebaran, bisa habis dua karung tepung,” kata Bambang.

 Keramaian pelanggan pada hari-hari tertentu juga dirasakan Erna, salah satu penjaga toko kue lapis legit “Pak Kendar”. Khususnya pada bulan Besar atau penuh gelaran hajatan, seperti perkawinan maupun khitanan, banyak yang datang memesan. Pada saat-saat itulah, pekerja di tempat usahanya rela tak menutup mata sedari pukul 01.00 malam. Lantaran banyak pelanggan yang memesan kue dalam jumlah banyak dan diambil pagi hari.

 “Jadi memang bisa pesan sewaktu-waktu,” kata Erna.

 Berbeda dengan hari biasa yang bisa mulai mengolah adonan kala matahari telah terbit. Omzetnya pun rata-rata berkisar antara Rp 100.000 hingga Rp 900.000 per harinya. Tak heran, kala sepi datang, lemari-lemari kayu berlapis kaca tempat meletakkan kue lapis legit terlihat melompong.

 Krisis ekonomui ternyata berdampak bagi para pengusaha roti  Kaliabu. Lantaran harga bahan baku seperti telur, margarin, terigu, juga minyak turut naik. Meski pun, diakui Bambang, dampaknya terlalu signifikan. Hanya saja, untuk menyeimbangkan antara pemasukan dengan pengeluaran dengan cara menaikkan harga kue, diakui Bambang sulit dilakukan. Sedari mulai meneruskan usaha ayahnya pada 2000 hingga sekarang, harga yang dipatok mulai Rp 12.000 saat itu hingga Rp 14.000 saat ini. 

     "Tidak berani menaikkan harga, nanti pelanggan resah," kata Bambang. (PITO AGUSTIN RUDIANA)

 

 

Dari Satu ‘Beranak’ Jadi 15


foto: pitogoestin
Sentra industri kue lapis legit di Kaliabu tak lepas dari kepiawaian almarhum Mardi Suwarno, sang pendiri kali pertama di sana. Keahliannya berawal dari pekerjaannya sebagai mantan karyawan toko roti “Mataram” di kawasan Malioboro sekitar 1970-an. Menurut cerita anak sulungnya, Bambang Kriswanto, ayahnya itu pernah disangoni peralatan membuat kue oleh majikannya untuk dibawa pulang. Alhasil, selain bekerja pada majikan, Mardi juga mengolah kue untuk dijual sendiri. Lama kelamaan, karena jumlah pelanggannya kian bertambah, Mardi pun berhenti bekerja dan mulai serius dengan usaha di rumahnya. Berdirilah toko “Pak Joyo Roti” yang kemudian diteruskan oleh tiga anaknya, yakni Bambang, Maryono, juga Ipah. Lainnya adalah pengusaha lain yang merupakan teman, kerabat, juga tetangga Mardi. (PITO AGUSTIN RUDIANA)

Rabu, 15 April 2009

Klangenan Pasar Kotagede

Tiang Pancang dari Rel Kereta Api

foto: pitogoestin
WAJAH pasar sebagai pusat perekonomian serasa tak lekang tergambar di Pasar Legi Kotagede. Pasalnya, perputaran roda dari waktu ke waktu tak membuat pasar tradisional di Kecamatan Kotagede, Kota Yogyakarta itu mati. Sedari pagi hingga kembali ke pagi lagi, pasar itu tetap meriakkan tanda-tanda kehidupan. 
“Pasar Kotagede itu dua puluh empat jam,” kata Rustandi, pedagang sembilan bahan pokok (sembako) yang berjualan di sana sejak 1974 kepada Tempo, Rabu (15/4/2009). 
Kehidupan yang tak surut itu bisa dilihat sejak kedatangan bakul-bakul sayuran di pasar peninggalan kerajaan Mataram. Mereka datang seiring mobil-mobil bak terbuka yang mengangkut aneka jenis sayuran dari berbagai daerah pada pukul 02.00 WIB. Aktivitas jual beli pun berlanjut hingga pukul 12.00 WIB siang. 
Di dalam pasar pun tersebar berbagai macam jenis barang tradisional yang ditawarkan dan dijual. Meski masih terlihat acak, pembeli tak begitu sulit menemukan barang-barang yang dicarinya. Semisal, di bangunan ujung selatan adalah tempat dijualnya berkarung-karung arang. Kondisi yang terlihat kumuh pun terlihat di arena penjualan bahan bakar yang masih banyak dipergunkan masyarakat Kotagede itu. Menyisir ke arah utara mulai dijual bumbu pasar dan sayuran. Tak ketinggalan los daging yang menempati bangunan tersendiri di tengah pasar. Kemudian aneka perkakas dapur, mulai dari besek, tampah, tusuk sate, dan sebagainya dijual di sisi timur. Juga sembilan bahan pokok (sembako) dan perhiasan emas yang banyak disediakan di kios-kios pasar yang melingkar di sisi luar dari utara ke barat. Sedangkan pakaian, sepatu, sandal dijual di sisi luar pasar sebelah timur. 
Pergantian waktu pun mengiringi pergeseran jenis barang yang dijual. Meski kios-kios masih buka seiring lorong di dalam pasar kian sepi, keramaian bergeser ke pelataran pasar di sisi utara dan barat. Aneka jenis sayuran dan bahan mentah makanan lainnya yang dijual pagi hari telah berubah menjadi bermacam-macam makanan jadi untuk dijual sore hari. Para pedagang menjualnya dengan gerobak dorong. Ada gerobak isi klepon dan getuk, ada gerobak gorengan, gerobak gudeg, dan sebagainya. Jika menginginkan lauk dan sayur untuk teman makan malam hari pun disediakan mbok-mbok bakul pecel, gudangan, juga cap jay. Atau merindukan jajanan tradisonal serupa ketela rebus, singkong rebus, pisang rebus, kacang rebus, gatot, tiwul, gerontol, juga entok-entok (jajanan dari jagung yang ditumbuk dan dicetak bulat-bulat), tersedia pula. 
“Harganya murah dan banyak. Beli gatot dan tiwul Rp 1.000 nggak habis, bisa dibagi tiga bungkus,” kata Mohammad Natsir, warga asli Kotagede yang menjadi Ketua Yayasan “Kantil”, lembaga pengembangan sni budaya Kotagede. 
Tak ketinggalan jajanan-jajanan pasar yang menempati lapak-lapak di sudut barat laut yang menyediakan arem-arem, putu ayu, wajik, lemper, juga kipo dari kata “iki opo”, makanan khas Kotagede. 
“Kalau hari biasa, kami buat 250-an bungkus, kalau hari minggu sampai 500-an,” kata Amanah, penjual kipo yang meneruskan usaha neneknya, Jito yang hidup semasa penjajahan Jepang. Harganya pun murah, sebungkus Rp 500 yang berisi lima biji. 
Sekitar pukul 21.00 WIB ke atas, jenis makanan yang ditawarkan pun berubah, mengikuti selera pembeli malam hari. Sebutlah aneka wedang, seperti wedang ronde yang dijual Rp 2.500 per mangkuk, juga wedang kunir asem Rp 1.500. Tak lupa angkringan yang menyediakan nasi kucing beserta lauknya. Tak sekedar datang mampir ngombe, pelataran pasar pun dijadikan ajang ngobrol aneka topik. Diterangi nyala lampu dengan stop kontak yang dipasang di pepohonan depan pasar dengan kabel yang berseliweran di atasnya. Kehangatan sajian malam itu akan menemani hingga para bakul sayur kembali berdatangan. 
“Makanya, kami berencana menjadikan pasar Kotagede sebagai wisata kuliner malam hari,” kata Natsir yang mengaku tengah melakukan pembahasan dengan beberapa pihak yang peduli untuk merealisasikan rencana itu. 
Rencana tersebut tak lebih dari sebuah upaya untuk menegaskan kembali pasar tradisional tersebut, tak hanya sebagai pusat ekonomi, namun juga pusat peradaban Kotagede. Mengingat Kotagede sendiri menjadi kawasan yang sempat ‘hilang’ sejak keraton berpindah dari Kotagede ke Pleret, kemudian ke Kartasura dan ke Surakarta. Jenis-jenis barang dan makanan yang dijual cukup mencerminkan peradaban masyarakat yang mendiami kawasan tersebut. Begitu pula aktivitas dan karakter masyarakat di dalamnya. Terbukti, papan bertuliskan “Pasare resik, atine becik, rezekine apik” tertempel di beberapa bagian dinding pasar. Meskipun kondisi pasar yang kumuh, kotor, dan bau masih terlihat di beberapa sudut pasar. 
“Kita lupa, bahkan mengabaikan bahwa Pasar Kotagede ini situs sejarah,” tandas Natsir.

foto: pitogoestin
Sisa-sisa peninggalan sejarah itu bisa dilihat dari empat bangunan di sana. Bangunan pasar itu sendiri yang lokasinya di sebelah utara alun-alun Kerajaan Mataram. Ada monumen atau tugu peringatan jumenengan Sultan Hamengku Buwono IX yang dibuat masyarakat setempat tertanggal 18 Maret 1940 yang terletak di sisi timur laut pasar dengan aksara Jawa. Kemudian gardu listrik (aniem) peninggalan pemerintah kolonial Belanda di sisi barat laut dan monumen jumenengan Paku Buwono X.
 
Upaya yang telah dilakukan antara lain mengembalikan bentuk bangunan pasar, monumen, serta gardu listrik seperti asalnya berbekal dokumentasi foto pribadi tahun 1971. Menurut Natsir, gempa 2006 yang merobohkan bangunan bagian depan pasar dan tugu monumen itu menjadi kesempatan untuk melakukan konservasi bangunan cagar budaya itu seperti sedia kala. Dari sanalah, Natsir mengaku diingatkan. Bahwa bangunan pasar tradisional itu menggunakan konstruksi dari rel kereta api yang terbuat dari baja. Konstruksi-konstruksi tersebut masih terlihat pada langit-langit atap bagian dalam bangunan, maupun kosntruksi los-los pasar di dalamnya. Hal tersebut dibenarkan Rustandi yang menilai besi-besi baja itu adalah peninggalan Belanda. 
“Kami diingatkan, bahwa konstruksi dari rel kereta api itu keunikan pasar Kotagede,” kata Natsir. 
Kini, wajah pasar itu kembali ke bentuk lama. Termasuk menghilangkan pagar pembatas dari kawat berduri, sehingga tak ada lagi sekat-sekat antara pasar dengan manusia di sekitarnya. Meskipun, diakui Natsir, proses konservasi itu membutuhkan waktu yang tak sedikit. 
“Minimal 20 tahun,” kata Natsir. (PITO AGUSTIN RUDIANA)
 
   
Kini Disebut Pasar Legi Kotagede
 
Saat Ki Ageng Pemanahan atau kakek buyut Sultan Agung Hanyakrakusuma melakukan babat alas Mentaok, yang kemudian menjadi cikal bakal Kotagede, pasar menjadi bangunan pertama yang dibangun sebagai pusat ekonomi seiring bangunan rumah-rumah warga di sebelah utara pasar. Baru kemudian menyusul bangunan keraton, alun-alun di selatan pasar, dan masjid. Begitulah konsep catur gatra yang menjadi ciri khas bangunan keraton Hindu kuno, termasuk Kerajaan Mataram.
foto: pitogoestin
Laiknya pasar-pasar tradisional lainnya, pasar Kotagede mempunyai puncak keramaian sendiri, yakni tiap pasaran Legi hingga kini. Dengan alasan itu pula, Muhammad Natsir bersikukuh mengubah nama Pasar Kotagede menjadi Pasar Legi Kotagede pascagempa 2006 lalu. Sekaligus untuk membedakan dengan Pasar Gede dan Pasar Legi di Surakarta yang mempunyai usia historis jauh lebih muda ketimbang Pasar Legi Kotagede. Nama itu pula yang kini menghiasi atap depan pasar yang tengah memasuki tahap konservasi bangunan cagar budaya. Apalagi, Sultan Agung sebagai Raja Mataram ketiga (1612-1645) merupakan sosok penemu penanggalan Jawa. 
“Jadi Legi bukan sekedar pasaran, tapi konsep pemerataan ekonomi,” tandas Natsir.
Pemerataan ekonomi terlihat lantaran untuk pasaran selain Legi, keramaian bergeser ke pasar-pasar tradisional lainnya. Sayangnya, konsep itu mulai bergeser pada prinsip kapitalisme untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, tanpa mau berbagi dengan yang lain. Terbukti, saat pasaran Legi tiba, masih banyak pedagang yang berjualan di luar kawasan pasar. Padahal pasar adalah kawasan yang menjadi hak bagi pedagang untuk berjualan, pun ketika hari pasarannya tiba. (PITO AGUSTIN RUDIANA)

Rabu, 17 Desember 2008

Kisah Mesin Ketik

Yang Bertahan dengan Mesin Ketik 

foto: pitogoestin
TINI (35) semula tak menyangka. Hingga dunia memasuki era komputer dengan teknologi supercanggih, dia masih berkutat dengan mesin ketiknya. Bahkan, perempuan asal Pajangan, Kabupaten Bantul itu mengandalkan pemasukan sehari-hari dari jasa pengetikan dengan mesin ketik sejak 1992. Semula usaha jasa yang dirintis kakaknya itu dimulai di Jalan Gejayan Yogyakarta sejak 1975. Kemudian membuka cabang di ujung Jalan Colombo Yogyakarta pada 1992.
  “Daripada di rumah nggak ada kerjaan,” kata lulusan Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) yang kini jadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) itu saat ditemui Tempo, Rabu (17/12/2008) lalu.
  Namun berkat kesetiaannya terhadap mesin ketik bermerek Olympia yang dipakainya sejak dia bekerja di sana, Tini terbukti tetap bertahan hingga saat ini. Mungkin dia satu-satunya penyedia jasa pengetikan dengan mesin ketik di Yogyakarta. Sebuah profesi langka yang terbilang aneh di tengah-tengah masyarakat yang lebih senang membicarakan soal komputer dan internet ketimbang pita mesin ketik yang terkadang harus diputar manual jika sudah mentok.
  Tempat kerjanya persis di jalan raya yang ramai. Bahkan ruangan berukuran sekitar dua kali tiga meter itu berhimpitan dengan kios-kios serupa yang menjual sapu ijuk, permak jins, reparasi tas, dan sejenisnya. Bahkan orang nyaris tak melihatnya jika betul-betul secara cermat membaca stiker bertuliskan “Pengetikan Mesin Ketik” pada kaca yang mulai kabur.
  “Dulu, di belakang sini masih sawah. UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) belum seluas ini,” kenangnya sambil asyik memencet tuts-tuts mesin ketiknya yang disebutnya jadul alias jaman dulu itu.
  Meski suasana pada saat itu tak seramai sekarang, namun usahanya laris manis bak kacang goreng kala itu. Meski pula usaha-usaha yang serupa ditekuninya juga sebejibun jumlahnya. Maklum, orang belum mengenal teknologi pengetikan canggih semacam komputer. Tak hanya instansi perkantoran yang memanfaatkan jasanya. Paling banyak adalah mahasiswa yang tengah mengerjakan tugas akhir berupa penulisan skripsi. Satu bundel skripsi bisa selesai dalam waktu tiga hari. Kecuali skripsi mahasiswa Fakultas Hukum yang rata-rata tebal.
  “Bisa 125 halaman. Ya, seminggulah,” ucap Tini.
  Tak heran, dia mempekerjakan tujuh orang karyawan di Jalan Gejayan dan tiga orang di Jalan Colombo. Satu orang karyawan digaji Rp 75 per lembarnya. Harga selembar kertas berisi ketikan pada 1992 ada Rp 350. Kemudian naik menjadi Rp 700 per lembar pada 1993 dan Rp 1.000 pada 1995. Dirinya pun termasuk orang yang ikut mengetik berkat menimba ilmu mengetik dari sekolah.
  “Dulu sering ikut lomba mengetik lho,” kata Tini tersipu.
  Untuk menjadi karyawannya, tak terlalu sulit persyaratannya. Tak perlu bisa benar-benar mahir mengetik, seperti tak perlu melihat tuts saat mengetik. Yang terpenting, bisa mengetik dengan bagus.
  “Pakai dua jari juga nggak masalah,” katanya yang menurut dia, persoalan teknis itu bisa dilatih.
  Standar ukuran bagus yang diterapkan adalah bisa mengetik standar dengan ejaan sesuai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Yang agak sulit adalah memahami standar pemenggalan kata.
  Lain dulu, lain sekarang. Jalan Colombo bukan jalanan yang sepi lagi. Lalu lintas hilir mudik di depan kiosnya tiada henti. Namun usaha Tini terlihat sepi. Di dalam kiosnya pun, hanya Tini seorang diri tanpa seorang karyawan pun. Sebuah suasana yang berangsur-angsur dialaminya sejak 1994, persisnya sejak orang mulai mengenal komputer.
  “Skripsi sudah pakai komputer, meski belum semua,” kata perempuan berkerudung itu.
   Omset pengetikan pun berangsur menurun. Jika semula bisa mencapai 50 pesanan per harinya, kini paling banter hanya 10 pesanan. Tak heran jika satu per satu karyawannya undur diri karena usaha yang kian sepi peminat. Meski harga satu lembarnya sudah mencapai Rp 2.000 saat ini.

foto: pitogoestin
Hingga akhirnya tinggal Tini yang bertahan seorang diri. Di sebuah ruangan dengan temboknya yang berlubang sana sini, juga kayu-kayu di langit-langit yang terlihat lapuk. Saat masuk ke kiosnya pun terasa seperti memasuki bangunan musium. Tampak tumpukan berkas-berkas yang terjilid rapi di atas lemari terlihat berdebu. Dua buah kursi usang dengan kaki-kakinya yang sudah tersambung dengan kayu lainnya lantaran patah, seolah kian berat menyangga beban tumpukan buku di atasnya. Tini pun menyimpan sebuah mesin stensil kuno dan mesin pembuat lubang kertas yang tak kalah kuno pula. Terakhir, mesin stensil itu bisa dioperasikan pada 1997. Belum lagi, kurang dari 10 mesin ketik aneka ukuran dan merek tersusun rapi di atas meja di sisi utara. Ada yang terliht masih baru, ada pula yang sudah butut.
  “Itu mesin ketik yang saya repasi, ada juga yang dijual,” akunya yang juga menjual pulsa handphone di kiosnya.
  Harga jasa servis mesin ketik mencapai Rp 30.000. Biasanya, keluhan pelanggan adalah jika ada kawat string yang putus atau salah satu tuts huruf yang hilang. Apesnya lagi, mencari spare part mesin ketik tak segampang dulu. Tak semua toko menjualnya. Begitu pun, tak semua toko alat tulis menjual pita mesin ketik. Lantas, apa akalnya?
  “Saya beli mesin ketik bekas untuk diambil onderdilnya,” ucapnya sambil tersenyum.
  Mesin ketik bekas yang dibelinya dan sudah diperbaikinya ada juga yang dijualnya. Harganya berkisar Rp 170.000 hingga Rp 180.000.
  Di sela-sela kesunyiannya, tetap saja ada yang mencari dan membutuhkan jasanya. Seperti pagi itu. Tini yang biasa membuka usaha pukul 08.00 hingga 17.00 WIB itu ternyata telah kedatangan antrean empat orang pelanggan.
  “Susah kalau ngisi kolom-kolom dengan komputer,” kata Wiji, karyawan Dinas Pendidikan Provinsi DIY kala itu yang tengah mendapat tugas kantor.
  Begitu pun dengan Adi, mahasiswa Jurusan Manajemen UNY yang sebentar lagi diwisuda. Dia juga menggunakan jasa Tini untuk mengetik formulir kelulusan.
  “Biar nggak rumit,” tukasnya.
  Tini pun belum berniat untuk meninggalkan usahanya dan beralih ke usaha lain, terutama pengetikan dengan komputer. Dia masih yakin, rezekinya berasal dari mesin ketiknya yang setia dan belum pernah sekali pun diganti hingga kini. Lalu, apa resepnya bisa bertahan?
  “Jangan sampai saya jutek sama orang,” jawabnya lagi-lagi sambil tersenyum, biar pun penghasilannya hanya Rp 25.000 per hari. (PITO AGUSTIN RUDIANA)

Rabu, 26 November 2008

Klangenan Ki Hadjar Dewantara

Rumah Ki Hadjar pun Dimuseumkan 

foto: pitogoestin

BANGUNAN rumah nan asri itu berada satu komplek Yayasan Persatuan Taman Siswa di Jalan Taman Siswa Kota Yogyakarta. Siapapun bisa langsung menjumpainya saat masuk lewat gerbang utara, karena rumah mungil itu berada di sisi utara. Semua daun pintu dan jendela yang memanjang – arsitektur khas ala Belanda – itu dibiarkan terbuka. Seolah-olah senantiasa siap menerima persinggahan siapapun yang datang ke sana. Hanya sesekali daun pintu bagian selatan terhempas karena dorongan angin yang terkadang bertiup cukup kencang. Namun tiada tanda-tanda kehidupan di dalam rumah maupun seputaran teras yang diteduhkan dedaunan dari dua pohon kembang kamboja di halaman yang sudah dimakan usia. Setua rumah mungil peninggalan Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara yang telah beralih fungsi menjadi museum. 
“Biar nggak lembab, makanya diangin-anginkan,” kata Sri Muryani (44), salah satu pengelola perpustakaan dan Museum “Dewantara Kirti Griya (rumah yang berisi hasil kerja Ki Hadjar Dewantara)” saat ditemui Tempo, Rabu (26/11/2008) lalu, mengomentari daun-daun jendela dan pintu yang dibiarkan dibuka. 

Begitulah cara murah dan praktis yang dilakukannya. Mengingat biaya perawatan atas barang-barang koleksi di dalam museum tiadalah sedikit. Sebuah persoalan klise yang hampir dialami semua museum di Indonesia. 
“Untuk biaya perawatan barang-barang koleksi saja butuh sekitar Rp 50-an juta,” kata Muryani. Padahal, jika hanya mengandalkan tiket masuk dari pengunjung saban tahunnya, tiada cukup. Sebutlah. Biaya masuk bagi pelajar Rp 1.000, mahasiswa atau umum sejumlah Rp 2.000, dan bagi wisatawan mancanegara sebesar Rp 5.000 yang semuanya per kepala. Itu pun tak setiap hari ada pengunjung yang datang. Biasanya pada hari libur sekolah. Pengunjung kebanyakan pun para pelajar dari sekolah-sekolah di luar Yogyakarta. Sedangkan berdasarkan data yang dimilikinya, pada 2006 ada 3.758 orang pengunjung, pada 2007 ada 4.768 orang, dan pada 2008 meningkat menjadi 5.046 orang.

“Tahun ini, pemerintah provinsi memberi bantuan alat perawatan,” bebernya, seperti vacuum clenaner, tabung pemadam kebakaran, juga obat-obatan. Padahal, koleksi buku-buku, majalah, juga koran yang usianya sudah berpuluh tahun dalam museum itu membutuhkan perawatan khusus. Seperti fumigasi yang biayanya sangatlah mahal.
“Biasanya kita pakai dana dari biaya masuk pengunjung. Itu pun dipakai bergantian,” terangnya. Semisal, tahun ini untuk fumigasi, tahun depan untuk membeli obat-obatan perawatan lain, tahun berikutnya untuk biaya perawatan bangunan, dan sebagainya.

foto: pitogoestin
Tak hanya rumah hunian peninggalan Ki Hadjar saja yang dimuseumkan. Melainkan juga sebuah Pendapa Agung Taman Siswa – yang merupakan Monumen Persatuan Taman Siswa – yang terletak di tengah halaman komplek. Bedanya, pendapa itu selalu riuh oleh celoteh para pelajar yang tengah rehat di sana. Untuk berlatih tari, teater, berdeklamasi, karate, bahkan untuk tempat pertemuan terbuka. Bahkan menjelang siang, satu dua masyarakat umum menggunakannya untuk istirahat. Semilir angin yang sepoi-sepoi menyejukkan siapa saja yang beristirahat di sana. Di sanalah tempat murid-murid Ki Hadjar menimba ilmu.

“Makanya, tak ada yang tak mengesankan dari sepak terjang Ki Hadjar,” komentar Suratmi (89) – istri mendiang dosen dan pakar hukum adat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Iman Sudiyat – yang merupakan mantan murid Ki Hadjar pada 1937-1939 yang siang lalu sempat singgah sebentar.

Berbeda dengan suasana di rumah Ki Hadjar yang sunyi. Namun kesunyiannya tak menimbulkan rasa ngeri, justru ada rasa nyaman saat berada di rumah seluas 300 meter persegi di atas tanah seluas 2.720 meter persegi itu. Awalnya, rumah itu milik Mas Ajeng Ramsinah – istri orang Belanda – yang kemudian dibeli Ki Hadjar bersama dengan Ki Sudarminto dan Ki Supratolo yang merupakan pamong Taman Siswa pula pada 14 Agustus 1935. Baru pada 16 November 1938, rumah itu resmi dihuni Ki Hadjar bertepatan dengan peresmian Pendapa Agung Taman Siswa. Konon bangunan bergaya klasik kolonial itu dibangu pada 1925. Berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. PM.25/PW.007/MKP/2007 tertanggal 26 Maret 2007, baik rumah maupun pendapa tersebut ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

“Ki Hadjar pula yang menginginkan rumahnya dimuseumkan,” terangnya. Permintaan itu disampaikannya pada Rapat Pamong Tamansiswa pada 1958. Rumah mungil itu dilengkapi dengan teras kecil dengan empat kursi kayu model kuno di atasnya yang menyambut siapa pun yang tiba. 
“Dari sini (sambil menunjuk kursi di teras), Ki Hadjar memperhatikan siswa-siswanya yang ada di pendapa,” kata Mujiono (67), salah satu pengelola yang lain. Sebelum masuk ke ruang keluarga, pengunjung akan diajak memasuki kamar pribadi Ki Hadjar yang terletak di sisi barat banguna bagian depan. Ada sebuah tempat tidur kecil yang cukup untuk satu orang lengkap dengan kelambunya, juga tiga buah tongkat penyangga dari kayu koleksi Ki Hadjar. Tak ketinggalan meja kecil dengan mesin ketik kuno dan kotak kaca berisi sisir, juga bekas sabun mandi Ki Hadjar yang terlihat berwarna kecoklatan dan telah mengeras.
 
Kamar tidur itu berbatasan dengan ruang tamu yang berada di utaranya dengan pintu ruang tamu menghadap ke barat. Itu adalah satu-satunya daun pintu yang tak dibuka karena langsung menghadap ke jalan raya. Selain seperangkat meja dan kursi kayu kuno, juga ada telepon kuno buatan Pabrik Kellog Swedia pada 1927. Untuk menggunakannya pada zaman itu, penelepon harus memutar tuas lalu mendekatkan corong telepon pada telinga yang terpisah dari corong bagian mulut.

Di sebelah timur ruang tamu adalah kamar tidur Nyi Hadjar Dewantara. Tak jauh beda, tempat tidurnya juga dilengkapi kelambu dan berseprei putih. Serta lemari besar yang berisi aneka perabot rumah tangga seperti piring, gelas, dan guci dari keramik.
“Baik Ki Hadjar maupun Nyi Hadjar adalah keturunan Paku Alam III Kanjeng Gusti Pangeran Harjo Soerjo Sasraningrat. Jadi masih sepupu,” terang Mujiono.

Berdasarkan silsilah yang juga terpampang di sana, ayah Ki Hadjar yang mempunyai nama kecil Raden Mas Soewardi Suryaningrat adalah putra ke delapan dari PA III. Sedangkan Raden Ajeng Soetartinah atau Nyi Hadjar adalah putri dari putra ke 13 dari PA III.
Sementara itu, ruang keluarga didesain memanjang dan lebih luas dibanding ruangan lainnya. Ada sebuah kursi goyang kayu kuno lengkap dengan meja beralas keramik di sana. Di atasnya ada sebuah cangkir kuno. “Dari sini, Ki Hadjar memperhatikan putra-putrinya belajar,” kata Mujiono. Sedangkan keenam putra Ki Hadjar belajar lesehan di atas lantai dari tegel.

foto: pitogoestin
Buku-buku koleksi Ki Hadjar tertata rapi di rak-rak buku yang ditutup kaca. Warna kusam menandai betapa kunonya buku-buku itu. Juga ada piano yang digunakan Ki Hadjar untuk menciptakan nada-nada dalam gamelan Jawa yang disebutnya sistem nana Sariswara. Tak ketinggalan pula aneka piagam penghargaan yang diterima Ki Hadjar yang dipigura dan dipasang di dinding. 

Bangunan kuno itu, menurut Mujiono, belum pernah dipugar. Lantaran banguna tersebut dilindungi negara karena termasuk bangunan cagar budaya. Hanya saja, beberapa bagian banguna sempat diganti karena lapuk. Seperti langit-langit rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Juga sedikit perbaikan pada dinding bangunan yang sempat retak karena goncangan gempa pada Mei 2006 lalu. (PITO AGUSTIN RUDIANA)

Kamis, 09 Oktober 2008

Kuliner Wajik

Dari "Nyonya Week" hingga "Week"
BERMULA dari tradisi hajatan yang tak pernah lupa menyuguhkan aneka jenis penganan dari beras ketan, seperti wajik yang berwarna cokelat dan jadah yang berwarna putih. Sebuah tradisi yang masih banyak ditemui di pelosok-pelosok pedesaan. Alasan itu pula yang menggugah keinginan Nyonya Ong King Liem untuk membuat penganan wajik yang bisa dipasarkan ke mana-mana. Hingga lahirlah kali pertama penganan wajik komersiil pada 1931 di Desa Salaman, tepatnya di Jalan Salaman Raya, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah atau sekitar sembilan kilometer dari bangunan wisata eks tujuh keajaiban dunia, Candi Borobudur. 

Sepeninggal Ong King Liem, usaha rumahan yang hanya mengandalkan tenaga seorang karyawan ditambah para anggota keluarga itu dilanjutkan salah satu anaknya, Nyonya Ong Gwek Nio hingga 1972. Kemudian secara turun-temurun, wajik khas racikan Nyonya Ong King Liem itu diteruskan cucunya, Ong Hwa Nio hingga 1979, dilanjutkan lagi oleh cucunya yang lain atau kakak dari Ong Hwa Nio, yakni Ong Jow Tjwan hingga 1980. Barulah kini ditangani salah satu keponakan dari Ong Jow Tjwan, yakni Untung Giyanto (54). “Baru pada masa saya, wajik itu diberi nama “Wajik Nyonya Week”,” kata Untung saat ditemui Tempo di kediaman sekaligus toko wajiknya di Salaman, Kamis (9/10/2008). Nama “Week” sendiri diambil dari nama budhenya, yakni Ong Gwek Nio.


“Tapi lidah masyarakat sini sering menyebutnya dengan Week,” kenang Untung, lulusan Fakultas Sosial Politik Jurusan Komunikasi Universitas Diponegoro, Semarang itu. Pemberian nama pun berlanjut dengan pemasangan papan nama berukuran besar yang didesainnya sendiri di toko sekaligus rumahnya yang mungil dan sangat sederhana. Sangat kontras dengan toko-toko oleh-oleh yang berbangunan besar dan megah yang bertebaran di sepanjang jalan raya arah Muntilan hingga Magelang. Diakui Untung, toko-toko oleh-oleh yang menjual produk wajiknya itu telah meminta izin untuk memasang papan nama produknya, meski toko itu bukanlah miliknya. “Kami hanya punya dua toko, di sini (di rumah) dan satu cabang di pertigaan Palbapang,” ucapnya. 

Dalam mendesain huruf maupun background papan nama wajiknya, menurut Untung yang pernah kursus setahun di Jogja Design School itu tak lepas dari semangat nasionalismenya. Maklum, warna merah menyala terlihat mendominasi dengan pulasan warna putih. Alasannya, justru banyak produk dari luar negeri yang tidak menanggalkan identitas kenegaraannya. Dia pun ingin meniru hal itu. 

Tak hanya wajik yang diproduksinya, kala itu juga ada onde-onde, keripik tempe, serta rempeyek kacang. Namun saat tiba di tokonya, para pelanggan lebih banyak membeli wajiknya. Tak hanya pemasaran wajiknya yang kian digencarkan, Untung pun mengubah brand nama wajiknya menjadi hanya “Wajik Week” saja. Mengapa? “Soalnya banyak pembeli yang nanya, lha nyonyanya (Nyonya Gwek) mana?” jawab Untung sembari terkekeh. 

Menjaga kualitas adalah prinsip yang dipegang teguh penghobi fotografi itu. Tak heran, berbagai upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu dilakukannya agar konsumen percaya akan produknya. Misalnya, pantang bagi Untung untuk mengurangi takaran bahan baku wajiknya, meski pun harga bahan pokok naik. Dia lebih memilih untuk menaikkan harga, asalkan konsumen puas karena rasa wajiknya tetaplah sama. Cara pengolahannya pun tetap diikutinya sesuai standar yang digariskan para pendahulunya. Paling tidak, mulai dari merebus santan hingga keluar minyaknya, memasukkan gula kepala cair, lalu memasukkan ketan yang sudah dimasak dan mengaduk semua adonan menjadi satu itu membutuhkan waktu sekitar enam jam. 

“Ibaratnya, kalau 10 kilogram ketan seharusnya diolah selama enam jam, tapi hanya dua jam, apa jadinya?” ucapnya. Pengadukan satu adonan pun dilakukan secara manual di dalam kenceng atau sejenis wajan besar yang dipesan khusus dari Boyolali karena ukurannya berdiameter 70 centimeter. Pengadukan dengan alat, semisal dinamo, menurut Untung yang pernah mencobanya justru tak efektif karena tak kuat. Pasalnya, kian matang, adonan wajik kian liat, sehingga kian berat untuk diaduk.

foto: pitogoestin
Di sisi lain, pemasaran penganan basah semacam wajik, diakui Untung tak lepas dari kendala karena tak tahan lama. Sehingga upaya pemasarannya pun masih sebatas di kawasan Magelang, belum ke luar daerah.

“Karena produk kami tanpa pengawet. Kalau tidak dimasukkan dalam freezer tahan lima hari, jika dimasukkan bisa sebulan dan harus dikukus dulu sebelum dimakan,” paparnya. 
Dengan produk tanpa pengawet itu, maka pihaknya memang sepakat tidak banyak membuat produk dalam sehari. Jika semula hanya lima kilogram ketan sehari, kini dinaikkan sekitar 30 kilogram per hari dengan pemasaran seputar Magelang saja. Pagi diproduksi, harapannya sore hari telah habis. Rasanya pun hanya terdiri dua macam, yakni wajik cokelat dan wajik hijau rasa daun pandan. Wajik-wajik itu dikemas dalam kotak dengan dua ukuran berbeda. Kotak kecil seharga Rp 7.500, dan yang besar seharga Rp 15.000. 

Kini, Untung tak hanya memfokuskan produknya pada wajik yang telah banyak dikenal orang karena teksturnya yang empuk, manis, dan mengandung banyak minyak itu. Dia mulai mengembangkan produknya dengan tambahan produk Getuk Week, Bakpia Week, dan rencananya ada Kerupuk Week. Lantas, bagaimana triknya untuk bisa mengenalkan produk-produknya hingga banyak orang mengenal dan membelinya, mengingat lumayan nun jauh tokonya berada di luar pusat kota? “Yang paling efektif, ya mempersilahkan pada konsumen yang datang untuk mencicipi produk kami,” tandasnya yakin yang pernah pula mengiklankan produknya di radio maupun media cetak.

Trik itu pula diakui Untung diterapkan dalam mengenalkan produk wajiknya hingga sekarang. Siapa pun konsumen yang datang ke tokonya, khususnya yang baru kali pertama mengenal produknya akan dipersilahkan mencicip, meski tak harus membeli. Upaya itu pula yang akan diterapkan untuk produk-produk barunya. “Sopir pengantar tamu juga harus kita beri produk kita,” imbuhnya dengan harapan, suatu ketika si sopir tersebut akan mengantarkan kembali pelanggan baru kepadanya.  
(PITO AGUSTIN RUDIANA)