Kamis, 26 Juni 2008

Seni Teater Lungid


Semua Berawal dari Sebuah Tuk


foto: pitogoestin
SEBUAH ember berukuran sedang warna hitam nyaris dibuang Bibit, pemuda pengangguran berpikiran idealis, ke dalam sumur. Lantaran ember lusuh yang sudah penuh tambalan di sana-sini itu masih saja bocor meski sudah ditambal ulang. Mbah Kawit, perempuan paling renta yang hidup dari belas kasih warga di perkampungan tanah magersari itu berteriak-teriak mengingatkan. Bahwa membuang sampah ke dalam sumur yang berisi tuk alias mata air sebagai sumber kehidupan, bukan perbuatan terpuji. Sumur bukan tempat sampah. Kehidupan sedari bangun tidur dan akan tidur lagi dimulai dari tuk. 
  Tapi peringatan kedua dari Mbah Kawit untuk melindungi tuk, tak mempan buat Suleman Lempit. Si tukang makelar apa saja itu marah-marah gara-gara seekor ayam jago aduan raib dari kandangnya. Padahal ayam itu sudah ada yang menawar, Rp 57.000. Tanpa rasa bersalah, Mbah Kawit nyeletuk. Ada seekor bangkai ayam ditemukannya di dalam sumur. Lantas dijualnya kepada pedagang ayam seharga Rp 500. Suleman yang dipanggil Mbah Kawit dengan Leseman – alasannya, Suleman adalah nama nabi – mengamuk. Sumur si sumber penghidupan itu dianggapnya sebagai biang kerok melayangnya rezeki Rp 57.000. Tanpa rasa bersalah pula, laki-laki itu berdiri di atas bibir sumur, membuka retsluiting celana panjangnya, dan mengencingi air sumur, si air kehidupan. Bibit dan Lik Bismo, si penjual mainan anak-anak, tali kolor, juga sumbu kompor yang fanatik dengan wayang kulit, hanya terbengong.
 Penonton yang disuguhi adegan itu pun tergelak. Apalagi tiap ada dialog berisi umpatan yang diucapkan para pemain Teater Lungid dalam lakon berjudul “TUK” di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kamis (26/6/2008) malam. Tontonan teater berbahasa Jawa ngoko itu pun seperti tontonan lenong. Penonton sibuk nyeletuk, sibuk komentar, atau sekedar bersuit-suit dan tertawa.
 “Ya, sebenarnya kita sekaligus ingin memperkenalkan kembali idiom-idiom bahasa Jawa kepada anak-anak muda yang sekarang sudah banyak yang tidak mengenalnya,” kata sang sutradara, Pelog Trisno Santosa.
 Banyak ungkapan yang diakui Pelog, hanya mampu dipahami masyarakat Jawa 10 tahun lalu, saat kali pertama lakon TUK dipentaskan pada 1997 akhir. Namun menjadi asing di telinga anak-anak muda pada 10 tahun berikutnya. Sebut saja, seperti istilah urip kaya sambel yang diucapkan Mbok Jemprit, si penjual bumbu dan lombok di pasar. Artinya, hidup hanya untuk pelengkap. Mengingat pasar tradisional tempatnya berjualan akan digusur untuk digantikan dengan pasar modern.
 Hanya saja, diakui Pelog, tak semua ungkapan yang diucapkan sampai maksudnya bagi penonton. Lantaran para pemain yang rata-rata sudah berusia 45 tahun ke atas itu lupa untuk menjelaskan artinya.
 Misalnya, gerji. Pemain hanya menyebut gerji tanpa memberinya penjelasan. Orang mungkin tahunya itu gergaji, padahal itu sebutan untuk tukang jahit pakaian. Ya, sudah tua, antara otak dengan bibir sudah nggak sinkron,” kata Pelog, si pemeran Lik Bismo sambil tertawa. Namun, meski tenaga tua, vokal mereka cukup lantang untuk didengar hingga di sudut-sudut ruang.

foto: pitogoestin
  Sayangnya, tawa dan celetukan penonton yang tak memenuhi ruangan itu tak bertahan selama dialog yang diucapkan tiap-tiap pemain. Terlihat ada kejenuhan saat tiba di puncak klimaks. Beberapa penonton pun sempat ada yang sudah meninggalkan ruangan. Durasi waktu yang nyaris memakan 2,5 jam dimulai pukul 20.15 WIB itu diakui Pelog sebagai salah satu alasannya. 
“Ada beberapa pemain yang berimprovisasi dalam dialog. Bagaimana pun, itu juga turut menambah durasi waktu. Tampilan berikutnya akan coba dipadatkan,” kata Pelog. 
Lakon yang diambil dari salah satu karya almarhum Kenthut Bambang Widoyo mengisahkan kehidupan warga di tanah magersari. Sebuah istilah bagi komunitas yang nebeng untuk tinggal di tanah pekarangan orang lain, dengan perjanjian juga batas waktu yang kabur. Itu pun karena kebaikan Pak Darso, pemilik tanah yang sudah meninggal. Namun kehidupan menjadi terbalik saat berhembus desas-desus, Menik, anak perempuannya berniat menjual tanah itu. Warga magersaren yang rata-rata dari kaum pinggiran pun kelabakan, akan tinggal di mana nantinya. 
Mbah Kawit yang sering dipanggil “dhanyange” oleh Lik Bismo dan Bibit karena dia generasi pertama yang tinggal di tanah magersari yang masih hidup, adalah salah satu yang getol mempertahankan tanah magersaren. Dia hanya berpatokan pada wasiat Pak Darso, bahwa tanah itu tak boleh dijual. Perempuan itu menganggap, awal bencana sudah terlihat sejak sumur sebagai sumber kehidupan itu sudah mulai disalahgunakan. Dikencingi, tempat berkeluh kesah, jadi tempat sampah, yang semestinya menjadi pantangan. 
“Sumur kuwi ora nggo buang pauwan. Nanging sumber panguripan. Yen ngedohi banyu, kuwi ngedohi rezeki,” pesannya. 
Dia pun tak berdaya saat api melahap satu persatu rumah di kampung itu. Namun cita-citanya untuk mati di sana, terpenuhi. (PITO AGUSTIN RUDIANA)


Tentang Teater Lungid

AWALNYA bernama Teater Gapit yang berdiri pada 1981 di Surakarta. Sebuah nama yang diambil dari nama salah satu pintu di Keraton Surakarta, tempat mereka janjian bertemu untuk latihan. Di sana ada nama-nama seperti Kenthut Bambang Widaya SP, si pembuat naskah, juga Pelog Trisno Santosa, si sutradara. TUK sebagai lakon terakhir yang dipentaskan pada akhir 1997, sepeninggal sang penulis skenario yang membukukannya bersama karya-karya lainnya yang sudah pernah dipentaskan. Ada Brug, Suk-suk Peng, Rol, Leng, Dom, juga Reh. Sedangkan Luh belum pernah dipentaskan.
Tapi sejak 24 Juni 2008 lalu, Teater Gapit berganti nama dengan Teater Lungid. Kami cuma tak ingin beromantisme dengan masa lalu. Tapi ingin tetap melestarikan teater berbahasa Jawa yang nyaris belum pernah ada,” kata Budi Prasetyo, pimpinan Teater Lungid.
Lungid sendiri berarti tajam, juga cerdas. Meski ganti nama, namun para pemainnya tetaplah sama. Para pemain yang sudah beranjak menua. (PITO AGUSTIN RUDIANA)


Kamis, 29 Mei 2008

Klangenan Sriwedari

Riwayatmu...

foto: pitogoestin

SLAMETO WS (59) kembali melemparkan kailnya ke dalam kolam yang airnya berwarna kuning kehijauan di depannya. Tali pancingnya diulur panjang demi bisa menggapai air kolam yang terlihat jauh dari permukaan kolam. Sembari menjepit pangkal tongkat pancingnya dengan sebelah telapk kakinya agar tak jatuh ke kolam, kedua tangannya yang telah keriput dimakan usia mulai memain-mainkan pelet. Umpan ikan berwarna cokelat mudah itu diberinya sedikit air agar sedikit lembek, lalu dibuatnya menjadi bulatan-bulatan kecil. Selanjutnya menunggu giliran jika umpan pertama tak terlahap mulut ikan yang diburunya.
Tak jauh beda dengan karibnya, Haryadi (52) yang duduk di sebelahnya. Entah sudah berapa batang rokok habis diisapnya sembari menunggu mata kailnya bergerak karena tersentuh mulut ikan-ikan di sana. Toh, kantong plastiknya masih juga kosong. Sebelah kakinya ditekuk dan didekapnya di dada. Sebelah lagi dijulurkan ke kolam seolah ingin menggapai permukaan air kolam. Namun kian jauh tak tergapai karena kian dangkal. Sedangkan dasar kolam yang semestinya terlihat jelas, kian buram oleh kumuhnya sampah dedaunan dan warna air kolam yang tak lagi jernih. Sementara itu, dua orang bocah seusia anak SMP mulai menghitung ikan-ikan Red Devil di dalam kantung plastik bening ukuran satu kiloan. Ada tiga ikan hias warna merah yang berhasil dipancingnya dan siap untuk mengisi akuarium di rumahnya.
“Dulu kedalaman airnya semeter lebih. Bahkan waktu SMA, saya suka berenang di sini,” kenang Slameto membuka perbincangan akan Taman Segaran, sebuah kolam yang berbentuk melingkar di komplek Sriwedari Solo itu, 29 Mei 2008.
“Jembatan itu dulunya dari kayu, sekarang sudah jadi beton. Terus pagar di sisi selatan itu dulu hanya dari kawat berduri, bukan tembok seoerti sekarang. Dulu saya suka ke sini mbrobos dari situ, biar nggak bayar tiket,” lagi-lagi pensiunan tukang wara-wara film keliling itu berkisah.
Rupanya Sriwedari begitu lekat dalam kenangan masa mudanya. Pun kini, menjelang senja yang dihabiskannya untuk memancing ikan di Taman Segaran. Meski pun tak harus ada seekor ikan yang dibawanya pulang.
Jika dilihat, Segaran adalah satu-satunya bangunan di Sriwedari yang menandakan kedekatannya dengan alam. Belum lagi pepohonan asem juga beringin dengan daunnya yang rimbun memayungi tepian kolam. Saban hari, meski jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari, ada saja pemancing yang di sana. Rata-rata kaum adam, baik tua mau pun anak kecil. Mereka duduk berjejer di tepian Segaran dengan peralatan masing-masing. Hanya itu, aktivitas yang masih bisa dilakukan di Segaran. Tak lagi bisa berlayar dengan perahu kecil karena kedalaman air yang dangkal. Pun menyisakan sebuah perahu kecil yang dibiarkan terapung-apung di tengah kolam dan sebuah dermaga kecil di ujung barat yang tak lagi berfungsi.
Sementara itu, di sebuah daratan kecil yang dibuat tinggi di tengah kolam --laiknya Pulau Samosir di Danau Toba—yang disebut Taman Kapujanggan, tampak sebuah bangunan kecil yang kini menjadi gudang. Dua bua jembatan yang dibuat melengkung di sisi utara dan selatan menjembatani pengunjung yang ingin ke sana. Menurut Slameto, dulu bangunan tersebut dibuat asri dengan alunan musik keroncong yang dimainkan para musikus tunanetra. Tak hanya itu, para raja dari Kasunanan Surakarta sering berkunjung ke sana pada malam ke-21 pada bulan puasa atau malam Lailatul Qadar untuk bersemedi di Gua Swara yang ada di bawahnya. Yakni sejak masa Paku Buwono X dan tak lagi berlangsung pada masa Paku Buwono XII. Itulah mengapa Sriwedari, konon adalah tempat wisata raja-raja Surakarta sehingga sempat akrab disebut dengan Kebon Raja.
Berdasarkan sejarah, sebagaimana dikemukakan budayawan Surakarta, Kalingga, bahwa bangunan awal di Sriwedari adalah Gedung Kadipolo yang kini menjadi Museum Radya Pustaka yang berada di sebelah timur Taman Segaran, serta Segaran itu sendiri. Tanah Gedung Kadipolo diambil dari tanah sitihinggil, sedangkan air di Taman Segaran dialiri langsung dari mata air di Pengging, Kabupaten Boyolali. Pembangunan Sriwedari sendiri dimulai pada 1 Januari 1901 pada masa pemerintahan Paku Buwono X.
“Pentas wayang orangnya sudah ada sejak 1907. Sedangkan untuk bioskop sudah ada sejak ada gambar sorot bisu (film bisu). Mulai 1927 juga diramaikan maleman Sriwedari dengan semacam pasar malam. Ya, setelah malam 21 puasa itu,” tutur Kalingga.
Ditambahkan oleh Kepala Sie Pelayanan dan Informasi Wisata Dinas Pariwisata Solo, Mufti Raharjo, pembangunan Sriwedari sendiri yang berdiri di atas lahan seluas sekitar 10 hektar itu diilhami adanya taman untuk konservasi alam yang dibangun Belanda di Bogor. Sedangkan nama Sriwedari diambil dari istilah surga atau taman yang indah sekali dalam dunia pewayangan. Sebagaimana pernah dikemukakan Slameto, bahwa nama itu ada dalam kisah pewayangan Sumantri dan Sukasrana.
“Jadi pada masa PB X itu sangat memperhatikan konsep keseimbangan alam. Makanya Sriwedari pun dibangun dengan konsep tersebut. Yakni taman yang dijadikan sebagai hutan kota sekaligus resapan air. Itu bisa dilihat dari Taman Segaran. Dulu, air dari umbul Pengging itu mengalir terus,” tutur Mufti.
Pada 1980-an, Walikota Solo kala itu melakukan revitalisasi. Antara lain, memindahkan kebun binatang ke Taman Jurug. Dan Walikota sekarang, Joko Widodo pun berniat untuk merevitalisasi Sriwedari kembali ke konsep awal, sebagai konservasi alam. Hanya saja, kapan terealisasi, belum ada kepastian. 
foto: pitogoestin
Namun jika ditilik dari bangunan di atas lahan seluas sekitar 10 hektar itu, memang tak hanya Taman Segaran yang menjadi ciri khas Sriwedari. Dimulai adanya stadionnya sebagai ajang pertandingan sepakbola. Bahkan Pekan Olah Raga Nasional (PON) kali pertama di Indonesia pada 1949 digelar di sana. Di sebelah timurnya adalah taman hiburan rakyat (THR). Di sana biasa digelar pentas musik dangdut dengan grup musik yang rata-rata dari kawasan lokal. Kebanyakan adalah kaum muda mudi yang rela berjubel demi bisa bergoyang di sana.
Di tempat itu pula menjadi jujugan utama anak-anak usia bawah lima tahun (balita) hingga sekolah dasar (SD). Pasalnya, aneka permainan seperti komidi putar, bom bom car atau yang biasa mereka sebut mobil senggol, dan sejenisnya ada di sana. Tempat tersebut mulai ramai dikunjungi pada akhir pekan, kala anak-anak libur sekolah.
Di sebelahnya lagi adalah kawasan dimana bangunan-bangunan untuk berkesenian dibangun. Saat datang, pengunjung disambut oleh gapura dengan loket karcis yang terlihat sepi pada hari-hari biasa. Namun sejak malam Minggu hingga Minggu malam, siapa yang ingin masuk harus merogoh kocek sebesar Rp 1.000. Sebuah pendapa untuk aneka pentas seni, seperti teater atau pun wayang kulit berada di sisi tengah, usai lokasi parkir mobil. Di depan pendapa bertengger patung Gathotkaca yang tengah memangku istrinya, Pergiwa dalam lakon wayang “Pergiwa Pergiwati”.
“Patung itu untuk menghormati Pak Rusman dan Bu Darsi. Keduanya adalah pemain lama wayang orang yang sangat disegani yang sering memainkan lakon Gathotkaca dan Pergiwa. Tapi Pak Rusman sudah meninggal dunia,” tutur Welas (52), pedagang kupat tahu yang mangkal di sana sejak 1979.
Nasib patung yang dipoles dengan cat kuning keemasan itu terlihat tak terawat. Sebelah tangan Pergiwa buntung hingga ujung lengan dan sebelah tangan Gathotkaca putus hingga pangkal lengan. Tak jauh beda dengan kondisi pendapa yang catnya terlihat kusam. Pendapa itu sendiri lebih banyak dipergunakan pengunjung untuk beristirahat karena kelelahan, sekedar ngobrol dengan rekan, atau membaca koran.
Sedangkan gedung wayang orangnya itu sendiri terletak di sisi belakangnya. Kondisinya pun tak terlalu bagus. Atap gedung yang terbuat dari papan triplek, sebagian sudah terlihat menganga. Sungguh pun demikian, Gedung Wayang Orang Sriwedari itu merupakan gedung kesenian yang paling aktif digunakan ketimbang bangunan seni lainnya di sana. Tiap malam, mulai pukul 20.00 WIB hingga tengah malam, sebuah pentas wayang orang pasti dipertunjukkan. Bahkan sebuah jadwal pentas dengan lakon yang berbeda telah tersusun dari tanggal satu hingga terakhir dalam satu bulan. Jadwal yang hanya diketik dengan komputer pada selembar kertas putih itu tertempel di kaca meja loket.
“Yang main bagus-bagus, kok. Ya, ketimbang dulu lebih bagus sekarang. Bisa dilihat dari busananya lebih lengkap, tariannya lebih luwes, tata panggungnya juga lumayan. Cuma Rp 3.000,” terang Harmanto (42).
Lelaki nyaris paruh baya itu terlihat duduk-duduk di teras gedung dengan sebuah sepeda ontel di sampingnya. Dia mengaku suka menonton wayang orang di sana, meski harus rela mengayuh sepedanya dari Cemani, Kabupaten Sukoharjo. Di tengah kesendiriannya, dia menikmati suara musik yang terdengar campur bawur dari aneka permainan anak di THR yang ada di sisi baratnya.
“Padahal itu (THR) dulu adalah kebun binatang. Tapi sejak dibangun Taman Jurug, binatang-binatang di situ dipindah ke sana. Masih ingat saya, saat melihat gajah-gajah itu diangkut pakai truk,” akunya sambil tersenyum simpul.
Di sisi utara gedung terdapat area parkir untuk kendaraan roda dua. Pun ditambah bangunan-bangunan berukuran kecil sebagai warung makan. Sayangnya, penempatan bangunan-bangunan itu tak memperhatikan estetika yang baik agar mengesankan. Justru terkesan seadanya.
Jika menginginkan suasana yang sepi, namun tak nyaman, bolehlah berjalan ke arah timur. Di sanalah, bangunan Solo Theatre yang sudah tak lagi memutar film sejak sekitar 1996, masih berdiri. Tak ada sisa-sisa poster-poster film di sana. Siapa pun yang baru kali pertama ke sana, tak menyangka bahwa bangunan dengan dinding depan berupa kaca rayban hitam itu dulunya adalah gedung bioskop. Saat mengintip dari kaca, tampak beberapa meja tak tertata rapi. Tumpukan poster-poster film dibiarkan teronggok di dekat pintu masuk ke studio. Atap langit-langit pun serasa akan jebol karena menganga di sana sini. Dan saat melihat pintu studio yang terbuka, tampak samar-samar beberapa anak tangga yang dilapisi karpet merah menjadi jalan masuk penonton. Selebihnya, gelap.
“Kalau ingin adu nyali ya, di sana (gedung bisokop) itu. Jadi kalau nonton pasar malam, nggak usah ke rumah hantu, ke bioskop itu saja,” gurau Slameto memberi perumpamaan, betapa angkernya gedung itu.
Dia sendiri enggan menjelaskan seperti apa keangkeran yang dimaksud. Dulu, tiap ada film baru, lelaki kurus itu bertugas menginformasikan kepada masyarakat lewat pengeras suara dengan mobil yang membawanya berkeliling. Meski dicap angker, tak demikian bagi beberapa pengemis dan gelandangan di sana. Bahkan mereka memanfaatkan teras bangunan pada sisi barat dan selatan sebagai tempat beristirahat. Lengkap dengan aneka buntalan warna kusam dan kumuh yang bagi mereka tetaplah berguna meski bagi orang umumnya sudah terbuang. (PITO AGUSTIN RUDIANA)

Selasa, 29 April 2008

Klangenan Rekso Pustoko

 Perpustakaan Kuno yang Jarang Dijamah

foto: pitogoestin
LENGANG dan sunyi. Begitulah saat melongok ke ruang perpustakaan Rekso Pustoko yang memanjang di kawasan Kraton Mangkunagaran Kota Solo Jawa Tengah. Untuk menggapainya, haruslah menaiki tangga kayu yang berbentuk setengah lingkaran. Di lantai dua itulah nuansa etnik mendominasi ruangan yang tak begitu terang. Lemari-lemari buku dari kayu berwarna cokelat dan berdebu, beberapa meja dan kursi tempat membaca dari kayu cokelat tua, belum lagi buku-buku yang tertata cukup rapi dengan warna kertas yang rata-rata cokelat pula. Ada kesan kuno, usang, setua usia perpustakaan yang didirikan pada 11 Agustus 1867 pada masa pemerintahan Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Adipati (KGPAA) Mangkunegara IV.
Tak begitu banyak yang tahu bahwa di salah satu ruangan di lantai dua kerajaan tersebut masih terasa denyut perlahan nadi perpustakaan yang tergolong kuno. Hanya ada beberapa gelintir karyawan yang bertugas untuk mengurusi administrasi, alih aksara dari huruf Jawa ke huruf latin, tukang ketik, editor, hingga tukang cetak. Para pengunjungnya pun hanya berkisar 5-8 orang saban harinya, seolah banyak yang enggan menjamahnya. Mahasiswa yang membutuhkan data untuk tugas akhirnya, seniman berbagai aliran untuk pengembangan ilmunya, para peneliti, atau pun masyarakat umum yang sekedar membaca untuk tahu. Itu pun ada kesan tak puas untuk menikmati bacaan buku-buku kuno di sana. Lantaran tak diperbolehkan membawa pulang bukunya, pun waktunya dibatasi dari pukul 09.00 hingga 12.30 WIB.
“Ya, maklum...kami ini tidak digaji dari pemerintah (Pemerintah Kota Solo, red). Cuma dapat uang transport dari pihak kraton,” demikian alasan Kanjeng Raden Nganten Tumenggung Siti Koestini Soemardi, pensiunan guru sekolah dasar yang telah menjabat sebagai Kepala Perpustakaan Rekso Pustoko sejak 1986 saat dijumpai Tempo, Selasa (29/4/2008).
Tak jelas, berapa uang transport yang diterimanya berikut pegawai-pegawainya. Ada rasa enggan dan malu untuk mengatakan. Jawaban itu pula turut menggambarkan kondisi perpustakaan yang kini telah menyimpan sekitar 20.000-an buku dari masa KGPAA Mangkunegara I hingga kini, KGPAA Mangkunegara IX. Buku-buku yang tak hanya uzur dimakan usia, namun juga rusak dimakan rayap itu hanya dirawat dengan sekitar tiga kilogram kapur barus tiap bulannya. Perawatan lebih layak lagi adalah dengan fumigasi.
“Fumigasi pun tidak mesti kapan waktunya. Tergantung dananya. Kalau ada dana ya, setahun sekali. Ya, sekitar tiga juta rupiahlah. Kalau tidak ya, dua tiga tahun sekali,” aku Koestini.
Meski demikian, Koestini sangat bersyukur lantaran ada hari-hari tertentu dimana perpustakaan kuno nan sepi itu rapami dikunjungi. Bukan pada hari-hari libur panjang ketika pelajar libur. Namun justru saat tahun ajaran baru, tepatnya pada masa orientasi sekolah alias opspek. Biasanya, pihak perguruan tinggi di Kota Budaya itu akan mengajak mahasiswanya mengunjungi Rekso Pustoko sebagai ajang perkenalan peninggalan-peninggalan budaya kraton di Solo.
“Ya, pengenalan biar nanti kalau mencari bahan untuk tugas kuliah, bisa langsung ke sini. Lagi pula, anak-anak SMA juga ada yang ke sini. Soalnya, Bahasa Jawa kan sekarang diajarkan di sana,” imbuhnya perempuan renta yang berusia 82 tahun itu.
Jadi, apakah hanya buku-buku berbahasa Jawa saja yang tersimpan di sana? Ternyata tidak. Buku-buku yang dibagi menjadi 20 kelompok berdasar tema besarnya itu terdiri banyak bahasa. Mulai bahasa Jawa, Belanda, Inggris, juga Indonesia. Mulai dari buku peninggalan yang ditulis oleh KGPAA Mangkunegara I yang berjudul “Sejarah Wiwit Nabi Adam Dumugi Ratu-ratu Tanah Jawi lan Sanesipun” yang ditulis pada 1769 Masehi hingga buku terbaru yang dikoleksinya pada 11 Maret 2008 yang berjudul “Barus Seribu Tahun yang Lalu” dari tulisan Claude Guillot dan kawan-kawannya.
Buku-buku dari kalangan Mangkunagaran yang rata-rata beraksara Jawa, oleh pegawai perpustakaan dialihaksarakan menjadi aksara latin, lalu dicetak ulang. Ada pula buku-buku lama yang sudah dicetak dengan aksara Jawa yang masih disimpan. Seperti “Serat-serat Anggitan Ndalem KGPAA Mangkunegara IV” yang merupakan kumpulan tulisan Mangkunegara IV yang dikenal sebagai pujangga dan sastrawan besar sekelas Ronggowarsito itu.
“Kalau tulisan tangan beliau yang berupa aksara Jawa, nggak ada di sini, entah di mana. Di sini hanya aksara Jawa yang sudah dicetak saja,” kata Darweni, pegawai perpustakaan yang sekaligus juru alihaksara di sana.
 Ada juga buku karya Mangkunegara IV yang cukup terkenal yang berjudul “Serat Wedhatama” yang berisi ajaran budiluhur kehidupan masyarakat Jawa. Juga karya KGPAA Mangkunegara VII yang berjudul “Pakem Pedalangan Ringgit Purwo”. Buku yang dicetak dengan aksara Jawa itu terdiri dari 37 jilid dan 37 lakon wayang purwo. Dua raja itulah yang merupakan tokoh-tokoh dibalik keberadaan dan perkembangan Rekso Pustoko itu sendiri. Keduanya penggila sastra. Keduanya pecinta membaca. Pada masa KGPAA Mangkunegara IV lah Rekso Pustoko berdiri, meski saat itu keberadaan buku-buku masih diperuntukkan bagi para punggawa raja. Raja yang punya nama kecil Raden Mas Sudira kelahiran 3 Maret 1811 itu kurang tertarik pada kegiatan adu jago juga memanah. Seni dan sastra menjadi kepiawaiannya, sebut saja karya lainnya adalah “Wulang Reh”. Dan di tangan KGPAA Mangkunegara VII, Rekso Pustoko berkembang. Raja yang memprioritaskan pada pembangunan di bidang pendidikan itu teah mengembangkan Sekolah Desa (sekolah dasar bagi kalangan menengah ke bawah) dari 19 sekolah menjadi 127 sekolah. Begitu pula membangun Sekolah Rakyat (sekolah dasar bagi kaum menengah ke atas) sebanyak 65 sekolah.
“Buku-buku karya raja, yang dikumpulkan raja, maupun tentang Kraton Mangkunagaran ini sekarang ada 2.116 buku. Untuk karya-karya Mangkunegara IV dan VII sebagian ada di sini, sebagian lagi entah di mana. Tapi hanya buku karya Mangkunegara I itu saja yang nggak boleh dibuka dan dibaca umum. Hanya kalangan raja saja,” tutur Darweni.

foto: pitogoestin
Buku berjudul “Sejarah Wiwit Nabi Adam Dumugi Ratu-ratu Tanah Jawi lan Sanesipun” itulah yang dimaksud yang kini dimuseumkan. Panjangnya 19 centimeter dengan tebal 2,5 centimeter dan ditulis dengan aksara Jawa dan aksara Arab. Tak banyak kalangan umum yang tahu isinya, karena adanya larangan untuk membacanya. Hanya saja, berdasar sejarah, KGPAA Mangkunegara I alias Raden Mas Said atau yang berjuluk Pangeran Sambernyawa yang dimakamkan di makam raja-raja di Mangadeg, Karanganyar itu memang memfokuskan agama sebagai arah kebijakan dan pembangunannya.
Jika didasarkan pada katalog, buku-buku lain yang disimpan di sana adalah tentang piwulang, sejarah, sastra, wayang, menak, karawitan, tari, adat, primbon, pariwisata, hukum, pertanian, kesehatan, flora dan fauna, dongeng, warna-warni, juga batik. Bahkan katalog terakhir adalah buku-buku tentang politik.
 “Kalau buku-buku politik memang baru saja, pada masanya Bu Mega (masa pemerintahahan Presiden Megawati Soekarno Putri, Red). Sebab kakaknya Bu Mega (Sukmawati Soekarno Putri, Red) kan pernah menjadi istri dari KGPAA Mangkunegara IX, tapi sekarang sudah cerai,” kata Darweni.
Meskipun para pengunjung yang membaca tanpa dipungut biaya itu – kecuali jika ingin memiliki dengan difoto copy-kan oleh pegawai di sana – dilarang membawa buku-buku yang dibacanya ke luar alias di bawa pulang, diakui Darweni sempat pula ada yang ketlisut.
“Ya, dulu pernah ada yang ketlisut. Jadi ada cucu raja di sini yang pinjam beberapa buku untuk di bawa pulang. Ya, kami nggak mencatat, nggak beranilah, wong cucu raja,” aku Darweni.
Siang itu, pukul 12.30 WIB, Darweni mengingatkan lima pengunjung yang masih asyik membaca dan membolak-balik buku-buku di sana. Meninggalkan ruangan yang tua dimakan usia, meski berusaha memodernkan dengan buku-buku terbitan baru. (PITO AGUSTIN RUDIANA)